Minggu, 08 Januari 2017

Pola Pemukiman Pada Desa Adat Penglipuran

                              Pola Pemukiman Pada Desa Adat Penglipuran
Oleh : Ramzy Rabany (1401405037)

PENDAHULUAN
1.      1  LATAR  BELAKANG
Panglipuran merupakan salah satu desa adat di bali yang  masih mempertahankan unsur tradisional. Hal ini dibuktikan dengan tata letak desa yang masih menerapkan konsep tri hita karana. Tata letak desa panglipuran ini sangat dipengaruhi filosofi dari agama hindu yang dianutnya. Akibatnya falsafah hidup masyarakat panglipuran yang didasarkan atas agama hindu yang terdiri dari tattwa, susila, upacara ini menjadi dasar bagi masyarakat panglipuran khususnya dalam memanfaatkan ruang untuk kehidupan mereka.
Bertolak dari hal ini filosofi masyarakat panglipuran tersebut merupakan suatu rangkaian dalam desain arsitektur dan lingkungan. Desain arsitektur maupun lingkungannya merupakan perpaduan antara unsur makrokosmis dan mikrokosmis. Hal ini menjadi menarik karena terdapat perpaduan yang harmonis antara unsur alam semesta dan nilai religiusitas. Yang mana nilai-nilai religius merupakan unsur utama dalam membangun suatu desa tradisional.

1.      2  RUMUSAN MASALAH
a)      Bagaimana pola ruang desa adat panglipuran?
b)      Bagaimana pengaruh konsep tri hita karana dalam pola ruang desa adat panglipuran?

1.      3  TUJUAN PENELITIAN
a)      Mendeskripsikan pola ruang desa adat panglipuran
b)      Membedah bagaimana pengaruh kosep tri hita karana dalam tata ruang desa adat panglipuran

PEMBAHASAN
2.1 POLA PEMUKIMAN DESA ADAT PANGLIPURAN
Desa panglipuran  merupakan desa tradisional di Bali dengan ciri khasnya melestarikan rumah adatnya yang sekarang lebih banyak dikenal sebagai desa wisata. Masyarakat desa penglipuran mengakui bahwa nenek moyang mereka berasal dari desa Bayung Gede, Kintamani. Penduduk dari desa Kubu yang mondok dan bercampur dengan penduduk dari desa Bayung Gede tersebut, membentuk suatu pola menetap yang kecil dan diberi nama Penglipuran.

Desa  Penglipuran merupakan desa adat yang perkembangannya tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan Bali Mula, yaitu sebagai kebudayaan awal terlahirnya kebudayaan Bali. Memasuki  jaman Bali Age, kebudayaan dikembangkan dengan membentuk benda-benda dan dalam suatu susunan yang harmonis dalam fungsinya menjaga keseimbangan manusia dengan alam lingkungannya.

Pemukiman Desa Penglipuran berorientasi ke gunung “Kaja” dan ke laut “Kelod” yang membentuk pola linier yang membagi hunian menjadi dua bagian. Pola masa desa Penglipuran yang linier mengikuti arah mata angin utara – selatan.

Sebagai penanda orientasi hulu “Kaja” tengah dan teben “kelod”. Atau analogi tubuh manusia yang disebut  yang disebut Tri angga, yaitu kepala, badan dan kaki yang sekaligus menjadi tata nilai utama, madya dan nista yang kebetulan terbentuk pada desa Penglipuran yang notabene termasuk peninggalan jaman Bali Age yang berpolakan gunung dan laut.

Pola rumah didesa adat panglipuran ini mempunyai struktur rumah berderet tanpa adanya tembok pembatas antara rumah yang satu dengan yang lainnya

Penekanan Utama dalam Konsep Arsitektur Tradisional Bali adalah Tri Hita Karana yaitu menggabungkan antara konsep Bhuana Agung (Makrokosmos) dengan Bhuana Alit (Mikrokosmos) sebagai suatu pendekatan dalam tata ruang yang kemudian memberikan pengertian adanya jiwa dalam penataan ruang di Bali

Nilai ruang utama pada sumbu bumi berada pada daerah utara (gunung) dan nilai ruang nista pada daerah selatan (laut), sedangkan nilai ruang utama pada sumbu religi berada pada daerah timur (matahari terbit) dan nilai ruang nista berada pada daerah barat (matahari terbenam).   Akibat dari penerapan konsep sumbu bumi dan sumbu matahari pada tatanan permukiman desa adat nya, maka morfologi Desa Adat Penglipuran berbentuk linear dengan jalan

·         Pola Pemukiman Desa Adat Penglipuran berbentuk linier dengan sistem pembagian Tata Ruang horizontal bersumbu gunung dan laut dengan orientasi arah mata angin dengan sumbu Utara (Kaja) atau Gunung dan sumbu Selatan (Kelod) atau Laut.
·         Pola tersebut membagi desa dalam tiga bagian sesuai dengan Konsep TRI MANDALA yaitu,
a.      Utama Mandala
Orang Penglipuran biasa menyebutnya sebagai Utama Mandala , yang biasa diartikan sebagai tempat suci. Ditempat inilah orang-orang Penglipuran melakukan kegiatan sembahyang.

b.       Madya Mandala
Biasanya adalah berupa pemukiman penduduk yang berbanjar sepanjang jalan utama desa. Barisan itu berjejer menghadap kearah barat dan timur. Saat ini jumlah rumah yang ada disana ada sebanyak 70 buah. Tata ruang pemukimannya sendiri adalah sebelah utara atau timur adalah purakeluarga yang telah diaben. Sedangkan Madya Mandala adalah rumah keluarga. Di tiap rumah pun terdapat tata ruang yang telah diatur oleh adat. Tata ruang nya adalah sebelah utara dijadikan sebagai tempat tidur, tengah digunakan sebagi tempat keluarga sedangkan sebelah timur dijadikan sebagai tempat pembuangan atau MCK. Dan bagian nista dari pekarangan biasanya berupa jemuran, garasi dan tempat penyimpanan kayu.




c.       Nista Mandala
Nista mandala ini adalah tempat yang paling buruk, disana terdapat kuburan dari masyarakat penglipuran.
Konsep tri mandala tidak hanya berlaku bagi tata ruang desa tetapi juga bagi tata ruang rumah hunian. Setiap kapling rumah warga Penglipuran terbagi menjadi tiga bagian. Di halaman depan, terdapat bangunan angkul-angkul dan ruang kosong yang disebut natah; bagian tengah adalah tempat berkumpulnya keluarga; dan di bagian paling belakang erdapat toilet, tempat jemuran, atau kandang ternak.

. Beberapa Konsepsi dan filosofi dari pola pemukiman desa Penglipuran :

Konsep Tat Twam Asi, memandang keragaman dalam suatu kesetaraan & terhadap sesama manusia & lingkungannya.

Konsep Rwa Bhineda, memberikan orientasi yang berlawanan seperti Luan – Teben (Hulu - Hilir), Kaja – Kelod (Utara-Selatan), dan juga Sakral – Profan (Baik-Buruk)

Konsep Bhuana Agung – Bhuana Alit, Bhuana Agung ( Macrocosmos ) merupakan alam jagat raya berserta isinya, Bhuana Alit (Microcosmos ) dianalogkan sebagai fisik manusia.

Konsep Desa, Kala, Patra, Diartikan sebagai Ruang, Waktu dan Situasi atau Tempat, Periode dan Kondisi

Konsep Manik Ring Cacupu, Karya Arsitektur haruslah menyikapi alam beserta isinya untuk mampu bertahan & mencapai keharmonisan.

·   Konsep Tri Mandala, memberikan orientasi vertical “ Utama, Madya, Nista”

Konsep Nawa Sanga, memberikan kekuatan symbol pada struktur yang menggambarkan adanya pola struktur dan keterikatan antara komponen struktur.



KESIMPULAN
Desa adat penglipuran memiliki pola pemukiman yang cukup unik yaitu berupa pola pemukiman yang linier dengan system tata ruang horizontal yang berorientasi pada gunung dan laut sesuai dengan arah mata angin dengan bersumbu utara kearah gunung (Kaja) dan sumbu selatan kearah laut (Kelod) , dengan adanya sumbu utara – selatan dengan pola linier yang berfungsi sebagai ruang terbuka bagi masayarakat penglipuran yang biasa digunakan sebagai kegiatan bersama, maka orientasi timur (Kangin) dan barat (Kauh) digunakan sebagai pemukiman masyarakat desa, dengan struktur rumah berderet tanpa adanya tembok pembatas antara rumah yang satu dengan yang lainnya. Konsep "Tri Mandala" diterapkan di desa ini, yang membagi desa menjadi tiga bagian utama. Bagian paling suci adalah "Utama Mandala" yang terletak di bagian Utara desa di mana tempat suci berada, bagian kedua disebut "Madya Mandala" di mana penduduk desa hidup dan melakukan kegiatan mereka, dan bagian terakhir adalah "Nista Mandala" di mana kuburan berada.



 Lampiran
Orientasi ke arah selatan

Pura, orientasi ke arah utara

orientasi barat-timur (kauh-kangin)



 
orientasi utara-selatan (kaja-kelod)

 tulisan ini merupakan hasil wawancara dari Bapak Nyoman selaku pemilik rumah


5 komentar:

  1. hai ramzy, pembahasan yg kamu tulis sudah cukup jelas dan panjang lebar, sehingga menarik untuk dibaca, namun ada satu hal yg ingin saya tanyakan. apakah ada hukuman tersendiri bagi suatu rumah atau bangunan yg tidak menganut sistem-sistem yg tertulis diatas?

    BalasHapus
  2. ramcuk, apakah pola pemukiman yang memiliki konsep tri mandala tersebut mempengaruhi stratifikasi sosial?

    BalasHapus
  3. kira-kira apa yang melatar belakangi sehingga proses tata letak desa penglipuran berorientasi pada gunung dan laut?

    BalasHapus
  4. Hallo ramzy, terima kasih informasinya ya. Sangat menarik dan memberi manfaat bagi siapapun yang membaca. Tapi ada hal yang saya mau tanyakan berdasarkan penjelasan di atas yang menyatakan antara satu rumah dengan rumah lainnya tidak memiliki pembatas. Apa yang menjadikan tiap rumah tersebut tidak diberi pembatas? Tolong dijelaskan alasannya ya.

    BalasHapus
  5. Untuk ramzy mungkin bisa di jawab dulu pertanyaan dari us, dari saya sendiri juga masih bingung terkait hal itu 😀

    BalasHapus