Minggu, 15 Januari 2017

Jenis Serta Fungsi Kain Tenun Pegringsingan Bagi Masyarakat Tenganan

Jenis Serta Fungsi Kain Tenun Pegringsingan Bagi Masyarakat Tenganan

Oleh: Angela Desya Setiyawan (1401405026)

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana



Pendahuluan
Negara kita, Indonesia, telah terkenal dengan kekayaan alam serta kebudayaannya yang beranekaragam, tak pelak bila Indonesia memiliki hasil-hasil budaya yang melimpah ruah di seluruh penjuru negeri, salah satunya tenun. Beberapa ahli menduga kebudayaan menenun berasal dari Mesopotamia dan Mesir sekitar 5000 SM, yang kemudian menyebar di Eropa dan Asia termasuk Indonesia. Dalam perkembangannya kain tenun tidak hanya sebagai kain penutup tubuh tetapi juga memiliki fungsi lebih misalnya sebagai pakaian adat atau sebagai identitas daerahnya, sebagai sebuah karya seni, bahkan juga dapat menunjukan strata atau kelas sosial setiap individu yang mengenakannya.
Salah satu jenis kain tenun misalnya yang ada di Bali yaitu kain tenun Pegringsingan atau kain Gringsing yang diproduksi di desa Tenganan, Karangasem. Kain ini dapat dibuat dengan  teknik single ikat ataupun double ikat. Jenis kain tenun double ikat hanya ada tiga di seluruh dunia yaitu di Jepang, India dan Indonesia (Desa Tenganan Pagringsingan, Karangasem). Karena kelangkaannya juga proses pembuatannya yang memakan waktu yang lama bahkan hingga bertahun-tahun lah yang menjadikan harganya mahal, sehingga untuk kain Gringsing biasanya diwariskan secara turun temurun dan hanya dikeluarkan di saat-saat tertentu saja.

Pembahasan
Desa Tenganan Pegringsingan memiliki aturan adat/ awig-awig tersendiri. Adanya awig-awig tersebut semata-mata untuk melindungi originalitas/ keotentikan dari desa Tenganan baik dari segi adatnya, sosial maupun unsur religinya. Masyarakat Bali Aga ini tidak pandang bulu terhadap siapapun yang melakukan pelanggaran baik pemuka adat maupun rakyat biasa akan dikenakan sanksi/ hukuman  yang setimpal. Hal yang sudah diatur dalam  hukum adat akan dilaksanakan dan tanamkan dalam diri masyarakat Tenganan mulai dari bayi, anak-anak, remaja, maupun yang sudah berkeluarga.
Setiap masyarakat Tenganan yang telah menikah berhak masuk dalam organisasi masyarakat desa Tenganan (krama desa). Dalam krama desa Tenganan tidak boleh ada anggotanya yang berasal dari keluarga yang sama, sehingga setiap keluarga hanya diwakili satu pasangan saja. Posisi setiap pasangan dalam krama desa dapat digantikan atau pensiun jika pasangannya meninggal/ bercerai ataupun ada anaknya yang menikah, karena syarat menjadi krama desa adalah berpasangan, selain itu anggota krama desa tidak boleh berpoligami, bercerai ataupun cacat fisik.
Lingkungan Tenganan yang sejuk begitu pula masyarakatnya yang sangat ramah menambah nuansa damai di desa tersebut. Selain Perang Pandannya, Tenganan juga memiliki kain tenun Pegringsingan. Kain tenun ini biasa dibuat oleh ibu-ibu di Tenganan. Kain ini dipercaya memiliki atau mengandung nilai magis yang dipercaya mampu menghilangkan penyakit. Kata gringsing sendiri mempunyai makna yaitu “gering” yang artinya sakit dan “sing yang artinya tidak sehingga gringsing berarti tidak sakit atau terhindar dari wabahatau sebagai penolak bala baik secara fisik maupun rohani.
Kain ini memiliki 4 jenis yaitu pat likur, petang dasa, sabuk tubuan, serta anteng. Jenis ini dibedakan menurut ukurannya. Untuk jenisnya sendiri terdapat beberapa versi menurut ibu Suarjana jenis kain Gringsing adalah Gringsing Sanan Empeg, Pat likur, Petang dasa dan Wayang candi, sedangkan menurut ibu Sudiastika jenis kain Gringsing antara lain:
a.       Petang dasa (40 benang) biasa dipakai saat upacara merajang (remaja putri yang menarikan tarian Rejang, salah satu tarian sakral di Tenganan), pernikahan ataupun saat menaiki ayunan pada ritual Usabha Sambha. Tarian Rejang biasa ditarikan di akhir Perang Pandan dengan gerakan tari yang lemah gemulai. Tarian ini dilakukan di jaba tengah pura dan dilakukan secara berkelompok.
b.      Anteng digunakan oleh para perempuan sebagai penutup dada, biasa dipakai saat upacara nyandang kebo (pada bulan Januari), para remaja putri dilempari lumpur yang telah dicampur  kotoran kerbau oleh remaja pria.
c.       Pat likur (24 benang) biasa dipakai oleh laki-laki, contohnya Lubeng (motif kalajengking) yang merupakan Lubeng terkecil.
d.      Sabuk Tubuan juga dipakai oleh laki-laki, kainnya menyambung/ tidak putus dari leher hingga sarungnya.

Tata cara menggunakan pakaian upacara sama dengan penggunaan pakaian sehari hari akan tetapi yang membedakan adalah dalam pemakaian tenun gringsing. Pemakaian kain gringsing yang beraneka ragam coraknya menimbulkan kesan mewah, ditunjang dengan atribut lain berupa hiasan kepala berwarna emas dan perak. Untuk laki-laki menggunakan kamen, saput, sabuk, udeng, keris dan tidak memakai baju, sedangkan perempuan menggunakan kamen, anteng. Upacara-upacara adat di Tenganan misalnya upacara ngekehing (upacara bayi baru lahir), upacara ngetus jambot (upacara potong rambut), upacara meajak–ajakan (upacara untuk anak laki-laki berumur 10 tahun), upacara meteruna (upacara untuk anak laki-laki yang sudah remaja), upacara Usabha Sambha (upacara terbesar di desa Tenganan), upacara perkawinan. Tenun yang di hasilkan oleh masyarakat tenganan mempunyai beberapa fungsi antara lain sebagai berikut:
a.       Sebagai sarana upacara adat dan upacara keagamaan
b.      Sebagai pakaian adat masyarakat Tenganan Pegringsingan
c.       Sebagai pakaian saat upacara kematian (hanya beberapa saja yang menerapkannya misalnya golongan bendesa), umumnya dalam upacara kematian di Tenganan tidak ada penggunaan kain Gringsing sebagai busana orang yang meninggal.
d.      Sebagai sarana untuk Misata atau pengobatan. Kain tenun Gringsing dipercaya masyarakat Tenganan sebagai kesatuan hidup di dunia dan akhirat. Dalam membuatnya memerlukan kerapian, kesabaran dan sesuai dengan apa yang telah diamanatkan leluhur mereka.
           
Penutup
            Tenganan sebagai salah satu desa Bali Aga sangat mempertahankan keotentikan adat, budaya juga religinya. Masyarakat Tenganan Pegringsingan sangat bergantung dengan kebudayaan asli mereka yang identik dengan ritual-ritual keagamaan. Dimana upacara serta kegiatan yang mereka lakukan merupakan salah satu wujud dedikasi untuk Tuhan. Kain tenun Pegringsingan memiliki fungsi yang sakral bagi masyarakatnya sendiri yaitu sebagai busana adat juga sebagai pelengkap upacara keagamaan serta dapat juga digunakan sebagai mahar atau maskawin karena memiliki nilai seni yang tinggi serta mengandung makna yang sangat dalam sehingga mempunyai peran penting bagi kehidupan masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan. Tidak semua masyarakat Tenganan yang memiliki kain tenun Pegringsingan lengkap, karena umumnya kain Gringsing diwariskan secara turun temurun. Dalam setiap upacara seringkali menggunakan motif Gringsing yang berbeda-beda, sehingga jika ada keluarga yang tidak memiliki motif tertentu, maka ia harus meminjam ataupun membelinya dari penenun Gringsing, karena keberadaan kain Gringsing dalam setiap upacara adat di Tenganan menjadi suatu keharusan tersendiri. Di tahun 1960-an sendiri kain ini hampir punah karena jumlah penenunnya yang tersisa hanya dua, hal ini mungkin disebabkan pengerjaan kain Gringsing yang cukup rumit dan memakan waktu yang cukup lama. Lalu setelah dunia pariwisata berkembang di Tenganan, mulai bermunculan pengrajin.



Lampiran




                                                                                                    
                                         gb.1 Koleksi kain Gringsing I Ketut Sudiastika


                                               gb.2 Salah satu kain gringsing Pat likur







gb. 3 Penggunaan anteng (yang menutupi dada) serta petang dasa (yang melintang di badan/ sebagai busananya) dalam tari Rejang (gambar http:// devapradnyana88.blogspot.com/desa-tenganan.html)

Sumber:

http://latifahsosant2012.blogspot.com/2014/eksistensi-kain-gringsing-dalam-ritual.html
Wawancara dengan I Ketut Sudiastika tanggal 27 Desember 2016
Wawancara dengan Ibu Sudiastika tanggal 27 Desember 2016
Wawancara dengan Ibu Suarjana 28 Desember 2016


4 komentar:

  1. Makasi desya atas infonya sangat berguna sekali
    Ada hal yg mau saya tanyakan mengenai pembagian jenis menurut ukurannya, ini maksudnya bagaimana?, karna yang saya baca pembagian jenis nya seperti bukan dari ukuran2nya
    Terimakasih, makin sukses untuk kedepannya

    BalasHapus
  2. informasi yang bermaanfat semoga kedepannya lebih baik lagi

    BalasHapus
  3. Terima kasih informasinya, sangat bermanfaat.

    Kalau boleh tau, kapan tepatnya pariwisata mulai berkembang di Tenganan sehingga menyelamatkan kain Gringsing dari kepunahan di tahun 1960-an itu, ya?
    Suksma :)

    BalasHapus
  4. infonya menarik sekali terkait dengan tenun gringsing ini, karena kebanyakan tahu hanya sebatas estetika, ternyata fungsinya banyak ya.
    saya ada satu pertanyaan tentang fungsinya sebagai media untuk pengobatan. itu bagaimana ya, bisa tolong diberikan gambaran bagaimana penggunaannya sebagai media tersebut.
    terimakasih banyak ya sebelumnya :)

    BalasHapus