Sabtu, 07 Januari 2017

Arsitektur Serta Fungsi Pola Tata Ruang Pada Bangunan Tradisional Baliaga Desa Penglipuran Bali, Kajian Etnografi

ARSITEKTUR SERTA FUNGSI POLA TATA RUANG PADA BANGUNAN TRADISIONAL BALIAGA DESA PENGLIPURAN BALI
KAJIAN ETNOGRAFI
OLEH : M. ULFAN AL HUDA (1401405010)

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Desa adat penglipuran merupakan satu kawasan pedesaan yang memiliki tatanan spesifik dari  struktur desa tradisional. sehingga mampu menampilkan wajah pedesaan yang asri. Penataan fisik dan struktur desa,  tidak terlepas dari budaya masyarakatnya yang sudah berlaku turun temurun. Areal pemukiman serta jalan utama desa adat penglipuran adalah areal bebas kendaraan terutama roda empat. Keadaan ini,  semakin memberikan kesan nyaman bagi para wisatawan yang datang. Kata penglipuran berasal dari kata penglipur yang artinya penghibur,  karena semenjak jaman kerajaan , tempat ini adalah salah satu tempat yang bagus untuk peristirahatan.
Selain itu,  menurut masyarakat kata penglipuran juga dipercaya berasal dari kata Pengeling Pura yang berarti sebagai tempat yang suci untuk mengingat para leluhur. Sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani dan kini mereka mulai beralih ke usaha industri kecil dan kerajinan rumah tangga.Dengan memanfaatkan bamboo sebagai bahan bakunya/ menjadikan desa penglipuran sebagai komunitas yang unik diantara kemajuan pulau dewata yang semakin pesat. Sesuai dengan kosep yang ada, desa adat penglipuran dibagi menjadi tiga bagian yaitu bangunan suci yang terletak di hulu/ perumahan di tengah,  dan lahan usaha tani di pinggir atau hilir. Di Pura Penataran/ masyarakat desa adat penglipuran memuja Dewa Brahma manifestasi Ida Sang Hyang Widi sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.
Dan masyarakat desa adat penglipuran percaya bahwa leluhur mereka berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani.Dilihat dari segi tradisi, desa adat ini menggunakan sistem pemerintahan hulu apad. Pemerintahan desa adatnya terdiri dari prajuru hulu apad dan prajuru adapt. Prajuruhulu apad terdiri dari jero kubayan, jero kubahu,  jero singgukan,  jero cacar,  jero balung dan jero pati.
Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Arsitektur Bangunan Tradisional Baliaga desa Penglipuran?
2.      Bbagaimana fungsi dari pola ttata ruang Bangunan Tradisional Baliaga desa Penglipuran?
Tujuan
1.      Mengetahui Arsitektur Bangunan Tradisional Baliaga desa Penglipuran
2.      Mengetahui fungsi pola tata ruang Bangunan Tradisional Baliaga desa Penglipuran
Pembahasan
Arsitektur Bangunan
1.      Angkul-angkul (Pintu Utama)
Pintu utama atau angkul-angkul pada setiap rumah di Desa Penglipuran berdiri dengan model dan bentuk serta bahan yang sama. Dimulai dari pondasi yang terbuat dari tanah dan batu padas dengan sedikit semen. Selain itu juga menggunakan batu bata sebagai bahan dasar dari angkul-angkul tersebut. Atap dari angkul-angkul dipilih menggunakan bambu, karena memiliki keselarasan dengan batu bata. Selain itu pemilihan bambu sebagai atap angkul-angkul juga dikarenakan di desa Penglipuran sendiri sangat mudah mendapatkan bambu.
2.      Bale Dangin
Bangunan bale dangin ini terletak disebelah timur. Fungsi dari bale dangin sendiri adalah sebagai teras dan juga sebagai peristirahatan sementara bagi para sanak keluarga yang meninggal dunia sebelum dilaksanakannya upacara ngaben. Selain itu fungsi lain dari bale dangin adalah sebagai tempat potong gigi dan sebagai sarana upacara-upacara adat lainnya.
Arsitektur mengenai bangunan bale dangin ini memiliki pondasi yang berukuran 50 cm hingga 1 meter dari permukaan tanah. Dan bale dangin itu sendiri juga memiliki sendi-sendi khas Bali yang berjumlah sekitar 8 buah.
3.      Bale Dauh
Bamgunan bale dauh merupakan bangunan yang difungsikan sebagai tempat tidur dari kalangan keluarga. Bangunan ini memiliki podasi berukuran 50 cm dari permukaan tanah. Pondasi sendiri terbuat dari batu padas yang dibawa masyarakat dari sungai secara gotong royong. Kemudian batu-batu padas tersebut direkatkan dengan sedikit semen hingga menjadi pondasi bangunan. Dinding dari bangunan ini terbuat dari anyaman bambu. Kemudian atap dari bangunan bale dauh ini dibuat sama seperti angkul-angkul yaitu terbuat dari bambu. Hal ini digunakan karena bambu bisa tahan oleh segala macam cuaca baik saat panas ataupun saat musim hujan selama 25 tahun. Bahan bambu ini juga dipilih karena tidak mudah pecah.
4.      Paon Penyakanan
Paon panyakanan terletak disebelah barat. Bangunan ini menggunakan pondasi dari tanah liat yang sudah mengering. Dinding dari bangunan ini juga terbuat dari anyaman bambu dan atap kuga terbuat dari bambu. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, pemilihan bambu sebagai bahan bangunan adalah karena di desa penglipuran ini sangat mudah mendapatkan bambu, dan bambu sendiri bisa tahan dalam waktu yang cukup lama dari berbagai macam cuaca.
5.      Gentong
Disebelah Bale Dauh terdapat sebuah gentong. Gentong tersebut telah difungsikan sejak sekitar 700 tahun yang lalu atau awal terbentuknya desa Penglipuran tersebut. Fungsi dari gentong ini pada awalnya adalah sebagai penampung air yang digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari masyarakat desa Penglipuran jaman dulu. Namun seiring berkembangnya zaman, gentong ini sudah tidak lagi difungsikan dan hanya diginakan sebagai hiasan saja.
Fungsi Pola Tata Ruang Bangunan Tradisional Baliaga di Desa Penglipuran
Pola tata ruang desa adat penglipuran dibagi menjadi 3 bagian besar yang memisahkan kepentingn-kepentingan yang berdasarkan kegiatan-kegiatan masyarakat Desa Penglipuran khususnya dalam bidang upacara keagamaan (yadnya). Hal tersebut disesuaikan dengan konsep Tri Hita Karana, yang dalam agama hindu Tri Hita Karana artinya tiga penyebab kebahagian dan keharmonisan manusia. Hal tersebut merupakan salah satu fungsi dari pola tata ruang di desa Adat Penglipuran. Dengan konsep Tri Hita Karana pada pola tata ruang Desa Adat Penglipuran, akan terjalin hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Manusia,  Manusia dengan Lingkungan.


KESIMPULAN

Hal yang bisa diambil dari penjelasan diatas adalah bahwa masyarakat di Desa Adat Penglipuran Bali tetap mempertahankan warisan-warisan yang ditinggalkan oleh para nenek moyangnya, termasuk bangunan tradisional tersebut. Bahkan di Era Modern ini dengan teknologi dan pengetahuan yang semakin berkembang, masyarakat desa Adat Penglipuran Bali tetap mempertahankan arsitektur dari bangunan-bangunan tersebut sebagai bentuk penghargaan ataupun rasa cinta terhadap nenek moyang.

Lampiran :
Narasumber : Bapak Nyoman selaku pemilik dari salah satu rumah di Desa Penglipuran


Angkul-angkul (Pintu Utama)








bale Dangin










Bale Dauh



Atap Bangunan yang terbuat dari Bambu

6 komentar:

  1. hai huda. tulisan anda sangat menarik sekali dan sangat informatif. saya rasa sudah cukup panjang lebar yang anda jelaskan. namun ada satu hal yang ingin saya tanyakan.

    seperti dijelaskan di atas bawha atap dari bangunan ini terbuat dari bambu yang ada di sekitar. yang ingin saya tanyakan apakah ada alasan lain yang menjadi landasan penggunaan bambu sebagai atap bangunan selain alasan melimpahnya sumberdaya disekitar?

    terimakasih saudara huda. mohon dijawab

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo abdimas.. terimakasih sudah mampir dan baca tulisan saya.
      Seperti yang sudah dijelaskan diatas pemilihan bambu sendiri dipilih karena melimpahnya sumber daya di Penglipuran sendiri. Namun selain itu pemanfaatan bambu sendiri dipilih karena atap rumah yg terbuat dari bambu tersebut tidak mudah pecah dan bisa tahan hingga 25 tahun dari segala macam cuaca baik panas maupun hujan.

      Nah seperti itulah penjelasan dari saya semoga cukup menjawap pertanyaan anda. Terimakasih

      Hapus
  2. Hello hud.. Mengingat tulisanmu tentang tata ruang dan arsitektur desa panglipuran.. Di sini saya sedikit bertanya... Yaitunya... Apakah ada kaitannya arsitektur desa panglipuran bali dengan desa adat bali age... Atau... Jika iya bagian manakah yg dipengaruhi oleh desa bali age... Mengingat desa bali age juga merupakan penduduk bali asli yg juga merupakan desa tua di bali...????

    BalasHapus
  3. Oke terimakasih besra sudah membaca tulisan saya.

    Mungkin saya jelaskan dari awal bahwa masyarakat penglipuran bukanlah masyarakat asli penglipuran sendiri. Melainkan mereka adalah pindahan dari desa Bayung Gede Kintamani. Nah desa bayung gede itu sendiri menganut kebudayaan bali aga, dan ketika masyarakat dipindahkan mulailah membangun desa yang kita kenal sekarang dengan sebutan Penglipuran. Pembangunan desa tersebut masyarakat bayung gede membawa kebudayaan bali aga tersebut termasuk dari segi bangunannya. Nah jika anda cermati dari segi bangunan-bangunan bali aga dibali, keseluruhan pada saat itu memanfaatkan alam sekitar sebagai bahan membuat bangunan, seperti batu padas, batu kali, jerami, ataupun bambu. Nah bisa anda lihat di Penglipuran sendiri Batu padas dan Bambu dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Dari atap yang terbuat dari bambu, dinding yg terbuat dari anyaman bambu dan juga pondasi bangunan yang terbuat dari batu padas.

    Mungkin itu yang bisa saya jelaskan semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

    BalasHapus
  4. Artikel ini sungguh memberikan informasi yang menarik terkait fungsi tata ruang rumah adat yang ada di Desa Penglipuran. Namun saya ingin mengajukan pertanyaan terkait keberadaan paon penyakanannya. Apabila posisi rumah atau pintu gerbangnya menghadap ke timur lalu apakah letak paon penyakanannya tetap berada di barat pekarangan? Mohon dijawab ya, terima kasih ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih chandri sudah membaca tulisan saya.

      Untuk pola letak dari bangunan penglipuran sendiri disesuaikan dengan peraturan Tri Mandala. Untuk tempat tidur orang tua terletak disebelah utara, kemudian di selatan adalah tempat metatah, dan tempat tidur anak, tempat air dan paon penyakanan berada di sebelah barat, sedangkan di sebelah timur adalah nista mandala. Jadi bisa disimpulkan dimana pun arah hadap pintu gerbang tetap menggunakan konsep Tri Mandala.

      Seperti itu yang bisa saya jelaskan. Semoga dapat menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

      Hapus