Sabtu, 14 Januari 2017

Makna Seni Keris di Keraton Surakarta Hadiningrat

“ MAKNA SENI KERIS DI KERATON SURAKARTA HADININGRAT “
OLEH : NANA SEPTYANA (1401405028)


1.1  Pendahuluan
a.      Pengertian Keris Dalam Keraton Surakarta
Keris adalah satu dari sekian banyaknya simbol-simbol budaya yang ada di tanah Jawa, sebuah senjata tradisional yang selalu dilibatkan pada setiap upacara tradisi keraton maupun upacara-upacara adat kejawen. Tradisi dan budaya yang berkembang dari zaman dahulu hingga sekarang tentang keris menjadikan keris selalu dihubung-hubungkan dengan kesaktian dan keampuhannya, maka tidak heran kalau sampai saat ini keris masih dilihat sebagai pusaka dan jimat oleh sebagian kalangan masyarakat.
Keris bukan hanya sekedar senjata tajam yang diciptakan untuk berperang dan juga bukan hanya sekedar pelengkap busana adat saja, tetapi keris merupakan simbol pribadi, piyandel atau sifat kandel, yang tidak bisa diganggu gugat keberadaannya, Kata K.P. Winarno Kusumo wakil pengageng Sasono Wilopo Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
b.      Jenis Keris Menurut K.R.A Sukatno Purwo Projo :
Selain itu menurut Sukatno, di tanah Jawa terutama Kasunanan Surakarta terdapat dua jenis keris yaitu keris luk (lekuk) dan keris leres (lurus) yang lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan istilah lajer, dimana, dari masing-masing jenis mempunyai tingkatan atau gelar yaitu, Kanjeng Kyai Ageng, Kanjeng Kyai dan Kyai. Di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kata Sukatno, Gelar Kanjeng Kyai Ageng diberikan pada keris pusaka peninggalan masa Kerajaan Jenggala hingga Mataram, untuk gelar Kanjeng Kyai diberikan pada keris pusaka Keraton, sedangkan gelar Kyai diberikan kepada keris yang berada diluaran Keraton atau yang dimiliki oleh masyarakat umum.



c.       Penempatan Keris di Surakarta
Penempatan keris memang berbeda-beda dimasing-masing daerah. Salah satunya di Jawa ini, penempatan keris ditempatkan di pinggang bagian belakang dengan alasan karena pada saat itu ketika adanya perdamaian antara satu dengan lainnya. Sedangkan keris yang ditempatkan di depan itu digunakan saat persiapan berperang atau bertarung. Sehingga masyarakat saat upacara adat jawa di Keraton ataupun dalam resepsi pernikahan dapat terlihat lebih disegani dan tidak hanya itu tetapi juga menimbulkan kedamaian. Dari situlah keris dapat berkembang hingga sekarang.

 
            Gambar 1.1 Penempatan keris di Jawa





1.2   Pembahasan
A.      Makna Seni Keris di Keraton Surakarta
Menurut (K.R.A.P) Kanjeng Raden Aryo Pandji Tjokro Hadinagoro yang saya wawancarai, Keris digunakan sebagai perlengkapan adat Jawa. Munculnya keris di Keraton Surakarta ini pada masa Kerajaan Majapahit. Selain itu, makna keris juga digunakan sebagai upacara adat sekitar seperti Grebeg Mulud, Malam Satu Suro, Kirab Kebo Bule, dan upacara lainnya. Makna keris di keraton Surakarta ini mengandung arti penting yang dimana terkait dengan kerajaan Udayana yang berada di Bali. Dari jaman tersebut dapat dijelaskan bahwa masuknya keris pertama kali di Keraton ini sama dengan masuknya agama Islam di Bali. Budaya keris ini yang muncul dari kerajaan Majapahit yang dimana telah berpengaruh terhadap budaya Bali. Untuk makna di dalam keris ini memang berbeda-beda. Selain digunakan oleh para pendeta keraton keris ini memang diberikan kepada orang-orang yang telah dipercaya dari keraton atau sering disebut dengan abdi dalem, Kata K.R.A.P Tjokro Hadinagoro.
Menurutnya, keris yang memiliki kesaktian memang tidak bisa dipungkiri keberadaannya karena pada dasarnya keris dulunya dibikin sebagai sebuah senjata pamungkas, Namun seiring perkembangan zaman keris lebih dikenal sebagai karya cipta yang mengandung nilai-nilai seni dan sejarah yang tinggi. Selain mengandung nilai-nilai yang tinggi, keris juga memiliki fungsi manifest yaitu sebagai senjata dan fungsi latennya yaitu sebagai pusaka diwariskan secara turun-temurun, merupakan simbol, regalia raja, tanda pangkat,atau memenuhi sopan santun dalam berbusana tradisi.
Kecenderungan masyarakat dalam melihat dan menilai sebuah keris yang hanya dari sisi gaibnya saja menjadikan keris lebih dianggap sebagai benda keramat dan menakutkan, pemahaman salah kaprah inilah yangs akhirnya menghilangkan nilai artistik, estetik dan etik sebuah karya cipta budaya warisan para leluhur bangsa, pengertian-pengertian seperti inilah yang semestinya harus mulai dirubah dalam menilai sebuah keris. Padahal, "lanjut pengemar keris ini," Kalau dilihat dari sisi artistiknya, keris itu mempunyai nilai jual tersendiri apalagi keris tersebut memiliki sebuah silsilah dari sejarah peradaban sebuah kerajaan, ini akan jauh lebih mahal nilai jualnya.

                                   
Catatan Penulis Oleh Narasumber (K.R.A.P) Kanjeng Raden Aryo Pandji Hadinagoro :

Keris digunakan sebagai perlengkapan adat Jawa. Munculnya keris di Keraton Surakarta ini pada masa Kerajaan Majapahit. Selain itu, makna keris juga digunakan sebagai upacara adat sekitar seperti Grebeg Mulud, Malam Satu Suro, Kirab Kebo Bule, dan upacara lainnya. Makna keris di keraton Surakarta ini mengandung arti penting yang dimana terkait dengan kerajaan Udayana yang berada di Bali. Dari jaman tersebut dapat dijelaskan bahwa masuknya keris pertama kali di Keraton ini sama dengan masuknya agama Islam di Bali.

Gambar 1.2 Bersama Narasumber K.R.A.P Tjokro Hadinagoro (Abdi Dalem Keraton Surakarta)



           1.3 Kesimpulan
            Dalam rangkuman ini, penulis dapat menyimpulkan bahwa keris merupakan benda pusaka peninggalan dari masa kerajaan Majapahit. Dimana keris mempunyai makna tersendiri yakni keris yang memiliki kesaktian memang tidak bisa dipungkiri keberadaannya karena pada dasarnya keris dulunya dibikin sebagai sebuah senjata pamungkas, Namun seiring perkembangan zaman keris lebih dikenal sebagai karya cipta yang mengandung nilai-nilai seni dan sejarah yang tinggi. Sehingga keris dapat digunakan sebagai simbol budaya di tanah Jawa. Salah satunya sebuah senjata tradisional yang selalu dilibatkan pada setiap upacara tradisi keraton maupun upacara-upacara adat kejawen. Tradisi dan budaya yang berkembang dari zaman dahulu hingga sekarang tentang keris menjadikan keris selalu dihubung-hubungkan dengan kesaktian dan keampuhannya, maka tidak heran kalau sampai saat ini keris masih dilihat sebagai pusaka dan jimat oleh sebagian kalangan masyarakat.
















DAFTAR PUSTAKA
                                                                      
·         Hasil Wawancara Oleh (K.R.A.P) Kanjeng Raden Aryo Pandji Tjokro Hadinagoro selaku Abdi Dalem Keraton Surakarta Keturunan Sunan Paku Buwana II, Surakarta, Jawa Tengah.
·         Amangkunegara III. K.G.P.A, 1985.  Serat Centhini jilid II Yasan dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunegara III (Ingkang Sinuwun  Paku Buana V) Disalin sesuai dengan aslinya oleh Kamajaya, Yogyakarta: Yayasan Centhini.
·         Arumbinang, Haryono.1996.  “Perbedaan komposisi logam dalam priodenisasi keris”. Makalah Seminar Bentara budaya  21-28 Agustus 1996.
·         Bulbeck F, David. 2000. “ Preliminary Results from the 1998-1999 Field Season in Luwu (Origin of Complex Society in South sulawesi). Dept. of Archeology and Anthropology, Australian National University Bidang prasejarah, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Jurnal Ilmiah
·         Burhan M, Agus. 2006.   Jaringan Makna Tradisi hingga Kontemporer. Kenangan purna bakti  untuk Prof. Sudarso sp, MA, Yogyakarta: BP ISI Yogyakarta.

4 komentar:

  1. Menarik sekali, terima kasih saudari Nana semoga bisa lebih baik lagi ke depannya. Mungkin bisa dijadikan bahan skripsi;) semangat

    BalasHapus
  2. adakah kris khusus untuk orang dan acara tertentu?

    BalasHapus
  3. Terimakasih atas informasinya sangat berguna sekali, semakin sukses untuk kedepannya

    BalasHapus
  4. Terima kasih informasinya, sangat menarik.

    Apakah ada ciri-ciri fisik khusus yang dimiliki oleh masing-masing keris kelompok Kanjeng Kyai Ageng, Kanjeng Kyai dan Kyai selain karena nilai sejarah atau asal-usulnya, ya?

    BalasHapus