Sabtu, 07 Januari 2017

Kulkul Bulus Pekenan Pejeng

Kulkul Bulus Pekenan Pejeng
 OLEH : IDA AYU WEDAYANI (1401405014)

Peken atau dalam Bahasa Indonesia artinya pasar. Pasar Pejeng termasuk pasar yang sudah kuno, bahkan sebelum ada pasar-pasar Gianyar, Bangli. Pasar Pejeng diperkirakan sudah ada pada abad 9-10 m, Ditunjang juga dengan peninggalan-peninggalan purbakala seperti pura melanting. Keunikan pasar Pejeng ini, ada sebuah pohon beringin tua yang di dalam lebatnya pohon beringin ini ada sebuah kulkul / kentongan. Sehingga ada nyanyian kulkul bulus pekenan Pejeng yang sangat terkenal di Bali, nyanyiannya sebagai berikut :
“ Ndang-ndang Dewa Ratu Kulkul Bulus Pekenan Pejeng ,
“ Yen Nyak Ratu Ndang, Tiang Lakar Ngaturang Celeng “
Artinya : “ Ya para dewa, semoga hujan ini reda, Kulkul Bulus Pekenan Pejeng / kentongan bertalu-talu pekenan pejeng ,
Jika mau hujan ini reda, kami akan menghaturkan persembahan babi “
Fungsi dari lagu ini untuk mendoakan agar saat pasaran pejeng tidak terjadi hujan, dalam kajian epigrafisnya terdapat berbagai regas pasaran, seperti ;
-          Wijaya Pura                 => Pasar yang ada dalam wilayah pusat suatu kerajaan.
-          Wijaya Kranta             => Pasar yang ada dalam wilayah pantai.
-          Wijaya Manggala        => Pasar yang ada dalam wilayah pegunungan.
Dilihat dari segi epigrafis tentang regas pasaran ini, pasar Pejeng termasuk regas pasaran wijaya pura, karena pasar Pejeng berada dalam kawasan kerajaan. Di depan pasar tepatnya ada sebuah puri yang dahulu adalah sebuah kerajaan.
            Pada zaman kuno, pasar tradisional tidak terdapat ruko/bangunan permanen, untuk menghindari terik matahari para pedagang hanya menggunakan alat tradisional yang disebut rob-rob yaitu sejenis peneduh atau payung yang terbuat dari anyaman bambu yang disebut bede yang akan terhindar dari kehujanan, jika terjadi hujan pastilah para pedagang akan kesulitan dan juga para pembeli tidak banyak yang datang. Agar pasaran itu berjalan lancar dan para pedagang tidak kesulitan menjual barang dagangannya, maka diadakanlah ritual doa untuk tidak turunnya hujan pada hari pasaran, itulah sebabnya para pedagang menyanyikan lagu kulkul bulus pekenan pejeng. Biasanya, yang akan memukul kulkul bulus ini ialah penjaga pasar. Sehubungan dengan kulkul bulus pekenan pejeng, yaitu pada pagi hari dibunyikanlah kulkul yang tergantung di pohon beringin dipukul oleh penjaga pasar secara bertalu-talu oleh penjaga pasar sebagai pertanda pasar pejeng mulai dibuka demikian juga pada sore hari untuk menandakan pasar pejeng ini ditutup.
Cara membedakan pukulan kulkul di setiap bale banjar dan di pasar, jika di banjar dipukul dengan cara tuludan, yaitu 1 tuludan menandakan ada orang yang menikah, 2 tulud menandakan adanya kematian, 3 tulud menandakan ada paruman banjar, jika dipukul bertalu-talu menandakan adanya bahaya seperti ada orang mengamuk, kebakaran dan musibah lainnya. Sedangkan kulkul bulus pekenan pejeng jika dipukul bertalu-talu yang juga diiringi dengan nyanyian “ndang-ndang dewa ratu” bukan berarti ada musibah, melainkan sebagai pertanda dibuka/dimulainya pasaran dan ditutupnya peken Pejeng. Terakhir kali dibunyikan kulkul bulus ini belum ada yang mengetahui. Dari segi letak pasar Pejeng sangat strategis berada di tengah-tengah dan dari arah manapun ada jalan mudah untuk mencari pasar Pejeng.
Mengenai pohon beringin yang ada di pasar Pejeng, dalam babad buncing Pejeng di sebutkan bahwa pohon beringin itu terlihat dari desa Tegeh Puri di Nusa Penida, demikian juga berdasarkan cerita kuno pohon beringin itu tampak terlihat dari daerah Bukit Panulisan Kintamani. Demikian juga berdasarkan cerita turun-temurun di Pejeng, jika ada lungsir berwarna putih di pohon beringin, itu menandakan ada tokoh/panglingsir puri Pejeng yang meninggal. Lungsir itu seperti rumah laba-laba yang berserat menggrogoti pohon beringin yang ada kulkul bulusnya ini. Sayang sekali, karena dianggap pohon beringin ini mengganggu kabel-kabel listrik dan toko-toko yang ada saat ini, dipotonglah cabang-cabang pohon beringin itu. Akhirnya matilah pohon beringin, sewaktu pohon beringin itu mati ditemukan juga sebuah keris kecil di bawahnya dan saat ini disimpan di Puri Agung Pejeng sedangkan kulkul bulus yang telah rusak dimakan umur ini dipindahkan pada bale kulkul Pemrajan Agung Puri Pejeng. Hanya saja belum diketahui pasti kulkul bulus di pohon beringin itu apakah asli pada zaman bali kuno atau kulkul yang sudah diganti berkali-kali.

Masih berhubungan dengan pohon beringin yang ada di pasar Pejeng, karena masih dianggap mengandung nilai sejarah oleh masyarakat setempat berdasarkan segi etnografisnya yang merupakan simbol keagungan desa Pejeng oleh masyarakat, maka atas prakarsa Ida Pedanda Griya Sanur Pejeng dengan Panglingsir Puri Agung Pejeng, maka pada tahun 2013 ditanamlah kembali bibit pohon beringin baru ditempat pohon beringin yang lama dengan upacara seperti kelahiran seorang bayi manusia, yaitu upacara kambuhan, 3 bulanan dan otonan. Beringin sekarang ini yang ditanam oleh Ida Pedanda Griya Sanur Pejeng dengan Panglingsir Puri Agung Pejeng terdiri dari 2 pohon dijadikan 1 lubang, yaitu 1 bibit diambil dari bibit pohon beringin di Griya Sanur Pejeng dan yang 1 lagi dari bibit pohon beringin yang ada di Puri Agung Pejeng, maka dari itu oleh Ida Pedanda Griya Sanur Pejeng, pohon beringin itu di beri nama “Beringin Wiku Nata”. Kedua beringin tersebut tumbuhnya besar-besar terlihat menjadi satu dan bentuknya bundar seperti pajeng/payung, yang dimana dahulu desa Pejeng di sebut Pajeng.

6 komentar:

  1. Adakah ragam hias yang terdapat pada Kulkul Bulus Pekenan Pejeng?

    BalasHapus
  2. Adakah ragam hias yang terdapat pada Kulkul Bulus Pekenan Pejeng?

    BalasHapus
  3. tolong iya penulis kalo bisa tulisnya di kasih gambar, biar pembaca bisa lebih mengerti kalo ada gambarnya tentang kulkul,nya.
    terimah kasih.
    Semoga bermenfaat yang baik tulisanya heheh :D

    BalasHapus
  4. Wow Informasi yang sangat menarik nih. Mau tanya sedikit yah, Terbuat dari bahan apa ya pembuatan kulkul bulus itu? Dan ada tidak orang khusus yang melakukan pemukulan kulkul bulus tersebut?

    BalasHapus
  5. Kalau tentang nekara terbesar yg mitosnya dikatakan bulan jatuh udah ada penjelasan tentang nekara tersebut?

    BalasHapus
  6. Woi yang buat blog ini gua cari ceritanya bukan penjelasan nya

    BalasHapus