Sabtu, 14 Januari 2017

Kajian Etnografi Pembuatan Kain Gringsing Desa Tenganan Pegringsingan

Kajian Etnografi Pembuatan Kain Gringsing Desa Tenganan Pegringsingan
Oleh: Jofel E Malonda (1401405020)
Program Studi Arkeologi FIB Unud


A.    Pendahuluan
Sebelum dimulai pengantar tentang Desa Tenganan Pegringsingan atau khususnya mengenai kain gringsing, akan dijelaskan dulu secara singkat tentang etnografi. Etnografi secara gramatikal dibentuk dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu ethnos (rakyat) dan graphia (tulisan/uraian). Etnografi adalah bagian dari etnologi yang merupakan ilmu yang membahas dasar-dasar kebudayaan manusia, dengan mempelajari kebudayaan kehidupan dari suku bangsa. Etnografi adalah bagian etnologi yang meliputi kegiatan pengumpulan data dan penggambaran masyarakat serta kebudayaan suatu suku bangsa. Etnografi adalah metode yang digunakan dalam mendokumentasikan dan mendeskripsikan realitas sosial yang ada. Adapun ciri dari etnografi adalah bersifal holistik, melakukan deskripsi mendalam dan analisa kualitatif dengan menjadi data murni dari sudut pandang orang asli (bersifat emik). Beberapa cara umum yang biasa digunakan dalam pengumpulan data dalam etnografi adalah dengan melakukan observasi partisipan dan wawancara mendalam (deep interview). Hal-hal yang ditulis di atas adalah sebagian kecil informasi mengenai apa itu etnografi dan metode apa saja yang biasa digunakan dalam mengumpulkan data.
Salah satu objek kajian yang menarik untuk menerapkan metode etnografi adalah budaya yang terdapat di Desa Tenganan Pegringsingan. Desa Tenganan Pegringsingan merupakan salah satu desa Bali Aga yang ada di Bali. Desa ini memiliki potensi dalam aspek pariwisata, dilihat dari kekunoan desa, sejarah desa, arsitektur bangunan desa, tradisi-tradisi, lingkungan dan juga karya-karya kerjaninannya (handicraft). Kain grinsing merupakan salah satu handicraft asli yang dibuat oleh masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan dan menjadi salah satu icon unik yang dihasilkan. Kain ini telah digunakan sejak leluhur masyarakat desa ini masih ada dan hingga sekarang kain tersebut masih difungsikan sebagaimana digunakan dulu. Kain Gringsing digunakan oleh masyarakat asli saat dilaksanakan kegiatan adat atau upacara-upacara adat lainnya. Setiap masyarakat wajib menggunakan kain gringsing dalam menjalani kegiatan upacara, bila tidak pihak yang melanggar akan dikenakan sanksi. Bila tidak sanggup memiliki atau membeli kain ini, boleh meminjam oleh anggota desa lainnya.



(Gb.1.Foto gadis-gadis desa dalam menjalankan kegiatan adat menggunakan kain gringsing)

Dalam masyarakat adat Desa Tenganan, kain gringsing hanya digunakan saat menjalani kegiatan-kegiatan sakral, namun seiring dengan perkembangan zaman, kain gringsing mulai dijadikan sebagai salah satu benda dalam kegiatan komersial, dijual untuk wisatawan-wisatawan. Namun, nilai dan penggunaan kain gringsing tetap sama seperti yang dulu oleh masyarakat Tenganan Pegringsingan. Masyarakat desa asli banyak yang memiliki kain gringsing secara turun-temurun. Kain yang ada pada leluhurnya diturunkan kepada keturunan selanjutnya dan seperti itu seterusnya. Hal ini karena semakin lama kain gringsing, semakin tinggi kualitasnya dan faktor lainnya adalah proses pembuatan kain gringsing membutuhkan waktu yang sangat lamadan rumit. Kain ini terdiri dari beberapa jenis bentuk dan ukuran serta motif hiasnya. Bentuk upacara yang dilaksanakan juga mempengaruhi penggunaan jenis kain gringsing yang digunakan saat menjalani upacara, serta ada beberapa jenis kain yang berbeda yang digunakan oleh laki-laki atau perempuan.

B.     Jenis Kain Gringsing
Seperti telah disebutkan di atas bahwa kain gringsing merupakan kain yang dibuat oleh masyarakat asli Tenganan Pengringsingan yang digunakan oleh semua masyarakat desa dalam setiap tradisi ritual desa. Berdasarkan hasil wawancara yang saya lakukan kepada beberapa narasumber, yaitu Bapak I Ketut Sudiastika sebagai salah satu Klian Adat yang ada di desa berserta Ibu Ni Komang Andayani (istri dari Bapak Sudiastika), bahwa nama gringsing berasal dari dua kata, yaitu gring yang berarti sakit dan sing artinya tidak. Jadi, secara keseluruhan artinya tidak sakit, secara filosofi dari nama tersebut terkandung kepercayaan atau keyakinan bahwa mereka akan mendapatkan perlindungan dan terhindar dari penyakit (penolak bala).
Kain gringsing terdiri dari beberapa jenis bentuk dan motif. Berikut adalah jenis-jenis bentuk kain gringsing:
1.      Sanan Empeg
2.      Patlikur
3.      Petang Dasa
4.      Wayang Candi
Sedangkan dari jenis motif dikatakan berjumlah 24 jenis, kata dari narasumber lain, Ibu Suarjana. Namun, hanya sekitar 19 jenis yang dapat disebutkan, diantaranya adalah:
1.      Lubeng
2.      Cemplong
3.      Dinding Ayih
4.      Cakra
5.      Henjegan Siak
6.      Gegonggangan
7.      Wayang Kebo
8.      Wayang Candi
9.      Teteledan
10.  Batun Tuwung
11.  Pepare
12.  Kesitan Pegat
13.  Cecempakan
14.  Patlikur Isi
15.  Wayang Putri
16.  Wayang Dedari
17.  Dinding Siganding
18.  Yada
19.  Lanang
Dari keterangan di atas dijelaskan bahwa cara membedakan jenis kain gringsing adalah dari melihat ukurannya dan motif hiasnya.

C.    Bahan dan Teknik Pembuatan
Membahas tentang bahan pembuatan kain gringsing, semuanya berasal dari bahan alami dari material penyusun kain hingga zat pewarna yang digunakan semuanya tanpa bahan kimia. Berikut adalah bahan umum yang diperlukan dalam pembuatan kain gringsing:
1.      Benang dari kapas keling
2.      Biji kemiri
3.      Arang kayu
4.      Daun taum
5.      Kulit akar mengkudu
Teknik pembuatan kain gringsing membutuhkan waktu yang sangat lama dan keahlian yang sangat tinggi. Berikut adalah teknik pembuatan kain gringsing secara umum yang dijelaskan oleh Ibu Suarjana:
1.      Proses pemintalan benang
Benang yang digunakan dalam pembuatan kain gringsing berbeda dengan benang yang digunakan dalam membuat kain pada umumnya. Benang yang digunakan untuk membuat kain gringsing berasal dari kapas keling, banyak ditemukan di Desa Seraya, Karangasem. Keistimewaan kapas ini adalah memiliki biji tunggal, tidak seperti kapas lainnya yang memiliki biji dempet. Kapas yang sudah tua dijemur pada sinar matahari. Lalu kapas dibersihkan, dipisahkan biji dan kotorannya. Setelah itu kapas dipintal dengan tangan. Karena memintal menggunakan tangan (manual), hasilnya terkadang tidak rata, ada yang memiliki ketebal dan ketipisan yang berbeda.



     (Gb.2. Benang yang sudah dipintal)

2.      Proses pewarnaan
Kain gringsing terdiri dari tiga warna, yaitu warna putih kekuningan, hitam atau biru (indigo) dan merah yang memiliki makna filosofi juga. Ketiga warna tersebut melambangkan tiga Dewa utama di dalam ajaran Hindu, yaitu Trimurti (Brahma, Wisnu dan Siwa) yang memiliki makna keseimbangan, sesuatu yang diciptakan hendaklah dipelihara dan suatu saat akan dilebur kembali dan mulai lagi dari awal, merupakan siklus yang diyakini. Warna merah melambangkan Dewa Brahma (api), warna Hitam/Biru melambangkan Dewa Wisnu (air) dan warna putih kekuningan melambangkan Dewa Siwa (angin).
a.  Tahap pertama, proses warna dasar dari kain gringsing adalah warna putih kekuningan yang diperoleh dari minyak kemiri yang dicampur dengan air abu. Minyak kemiri didapatkan dengan cara dikupas dan ditumbuk sehingga menjadi tepung. Setelah selesai, tepung dikukus lalu dibungkus, selanjutnya diperas dengan alat pemeras. Dikatakan bahwa dibutuhkan


                             (Gb.3. Biji kemiri)    

banyak biji kemiri (±1000 biji) untuk menghasilkan minyal sebanyak botoh bir dan semakin lama minyak kemiri disimpan, akan semakin bagus kualitas dari minyak tersebut sebagai pewarna ataupun pelengket warna lainnnya. Sedangkan untuk air abu didapatkan dari rembesan abu. Arang didapatkan dari hasil bakaran kayu bakar yang dikumpulkan, diayak lalu dicampur dengan air secukupnya, ditumbuk lalu dikeringkan. Diletakan di sebuah wadah lalu diberikan lubang lalu diberikan air. Tetesan dari air tersebut yang ditampung dan merembes ke bawah menjadi air abu. Semakin lama ditampung akan semakin bagus air abunya, akan berwarna kekuningan. Barulah minyak kemiri dan air abu dicampur. Setelah itu benang dimasukan ke dalam minyak kemiri yang telah dicampur air abu di sebuah wadah. Setiap tiga hari sekali benang diangkat dan dikucek, dibersihkan agar warna meresap secara merata. Hal ini dilakukan secarang berulang sampai mencapai batas waktu satu bulan tujuh hari. Setelah mencapai waktu tersebut, benang diangkat dan dijemur dengan cara diangin-angini (jangan dijemur pada terik matahari secara langsung). Benang diputar setiap harinya agar warna merata dan agar minyak tidak menetes di salah satu sisi. Hal ini dilakukan kurang lebih selama dua minggu. Proses selanjutnya adalah proses penghitungan benang dan mulai diberikan garis-garis untuk membuat motif yang diinginkan. Setelah itu benang pada alat pengayinan dibuat garis-garis dengan warna hitam dan perhitungan sesuai dengan motif yang diinginkan, lalu dilakukan proses pengikatan. Proses pengikatan bertujuan untuk menentukan bagian-bagian yang akan diberikan warna berbeda (kuning, biru dan merah), karena proses pewarnaan pada kain gringsing dilakukan secara berkelanjutan dengan proses celup. Ada dua jenis alat yang digunakan untuk proses pembuatan motif dengan menentukan garis-garis, yaitu penganyinan yang digunakan untuk mengukur bagian panjang dan telawah pakan untuk mengukur bagian lebar.

 









(Gb.4. Penganyinan (kiri) dan telawah pakan (kanan)

Benang diikat menggunakan tali rapia, namun pada zaman dulu masyarakat menggunakan serat daun sebagai alat pengikat. Serat daun dipercaya juga membantu dalam proses penyerapan minyak melalui rongga-rongga dan penggunaan serat daun memiliki kualitas yang lebih baik, karena tahan lama jika dibandingkan dengan plastik yang lebih mudah rusak. Namun yang menjadi kesulitan dalam penggunaan serat daum sebagai pengikat adalah warnanya yang tidak bisa dibedakan dalam menutup warna motif, tidak seperti tali rapia yang bisa dengan sengaja dibedakan warnanya untuk menandakan bagian mana yang berwarna kuning, hitam ataupun merah. Sehingga dulu agar bisa membedakan, ikatan serat daun ada yang diperpanjang untuk menandakan suatu warna. Teknik ikat ini yang menjadi salah satu ciri khas dalam pembuatan kain gringsing, yaitu teknik double ikat (ikat berganda). Motif dibuat pada bagian yang memanjang dan melebar secara terpisah namun diperlukan perhitungan dan ketelitian yang sangat baik agar motif dan warna yang akan dibuat dapat dipadukan menjadi satu secara seimbang.


  
                                              (Gb.5. Pengikat menggunakan serat daun)

b.  Tahap selanjutnya, adalah proses pewarnaan hitam/biru (indigo). Warna ini didapatkan dari daun taum. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu narasumber, dikatakan bahwa daun taum banyak juga yang diambil dari wilayah sekitar Kusamba. Pembuatan warna biru sendiri tidak dilakukan di Desa Tenganan, namun dibuat di sekitar wilayah Candi Dasa, Desa Bugbug. Mengapa tidak dibuat di Desa Tenganan juga tidak diketahui secara pasti, namun hasil wawancara dengan narasumber mungkin karena bau yang dihasilkan sangat bau, mungkin menggangu masyarkat desa ataupun wisatawan. Untuk warna sendiri proses perwarnaan membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Warna biru juga akan mempengaruhi perwarnaan selanjutnya, yaitu warna merah. Bila warna biru yang diproses bagus, warna merah yang nanti akan dihasilkan juga akan bagus. Ada dua jenis motif kain gringsing yang hanya menggunakan dua warna, yaitu motif wayang kebo dan wayang putri yang hanya menggunakan warna hitam dan putih kekuningan.




                                          (Gb.6. Kain gringsing dengan motif wayang kebo)

c.  Tahap selanjutnya adalah pewarnaan warna merah, yang merupakan tahap pewarnaan terakhir. Warna merah didapatkan dari kulit akar mengkudu yang dikeringkan lalu ditumpuk



 (Gb.7. Kulit kayu mengkudu)

sampai menjadi tepung yang selanjutnya direndam dengan air. Setelah itu benang kembali dimasukan ke dalam perwarna tersebut dan direndam. Proses pewarnaan merah membutuhkan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan proses perwarnaan warna lain. Proses ini memakan waktu sekitar semibilan bulan paling cepat. Benang direndam di dalam pewarna selama tiga hari. Proses ini tidak boleh terlalu lama karena dapat merusak warna birunya. Setelah itu benang diangkat dan dicuci, lalu dikeringkan dan disimpan ke dalam lemari kayu selama tiga bulan. Hal itu dilakukan berulang kali setidaknya tiga kali (sembilan bulan) minimal agar warna menjadi kuat. Proses ini membutuhkan waktu yang sangat lama karena bahan yang digunakan adalah alami, sehingga menunggu proses fermentasi warna alam yang lama. Pada zaman dulu, proses ini bisa memakan waktu sampai tahunan. Dikatakan juga konon bahan pembuatan warna merah didapatkan di wilayah sekitar, tetapi kualitas yang terbaik ada di wilayah Nusa Penida. Secara spesifik narasumber kurang mengetahui faktor apa yang menjadi sebab utama perbedaan kualitas dari bahan tersebut, mungkin karena faktor tanah ataupun kapur (karst).


(Gb.8. Proses perendaman warna merah)

Pemberian warna merah adalah langkah terakhir dalam pemberian warna pada kain gringsing, karena pada dasarnya kain gringsing hanya bisa menggunakan  tiga warna. Proses pewarnaan juga membutuhkan kemampuan yang handal, karena dalam proses pencampuran dan pengolahan warna terkadang ada takaran-takaran tertentu yang tidak memiliki ukuran pasti, menggunakan spekulasi. Sehingga pengalaman dan ketelitian menjadi kunci penting dalam menentukan kualitas warna suatu kain. Terkadang satu warna dengan warna lain memiliki kekuatan atau kepekatan yang berbeda, walaupun takaran setiap warna disamakan. Waktu pembuatan dan penyimpanan juga penting, semakin lama prosesnya warna yang dihasilkan akan semakin bagus. Semakin tua umur kain gringsing, akan semakin bagus kualitasnya karena warna pada kain tersebut akan semakin pekat dan teksturnya akan semakin berubah.

D.    Proses Menenun
Proses menenun adalah tahap terakhir dalam pembuatan kain gringsing. Mengingat teknik yang digunakan adalah double ikat, maka dalam kegiatan menenun akan lebih sukar dan membutuhkan waktu lama. Alat yang digunakan untuk menenun adalah cagcag. Cagcag adalah alat menenun yang sudah mendapatkan pengaruh dari Jepang. Sebelum adanya alat ini, penduduk asli Desa Tenganan menggunakan dua buah bambu yang ditegakkan untuk pembuatan kain.




                      (Gb.9.Cagcag)



  
(Gb.10. Kain Gringsing)

            Kain gringsing tidak boleh terlalu sering dicuci. Kain ini hanya bisa dicuci dengan air hujan atau air biasa agar warna dari kain tidak rusak. Atau bisa menggunakan buah lerek sebagai bahan untuk membersihkan.

E.     Kesimpulan
Desa Tenganan Pegringsingan adalah salah satu desa tradisional (Bali Aga) yang ada di Bali. Salah satu kerajinan yang menjadi salah satu icon penting di desa ini adalah kain gringsing yang menjadi pakaian adat mereka dalam setiap kegiatan upacara adat. Kain ini berasal dari dua kata, yaitu gring yang berarti sakit dan sing artinya tidak. Jadi, secara keseluruhan artinya tidak sakit, secara filosofi dari nama tersebut terkandung kepercayaan atau keyakinan bahwa mereka akan mendapatkan perlindungan dan terhindar dari penyakit (penolak bala). Adapun warna dari kain gringsing, yaitu putih kekuningan, hitam atau biru (indigo) dan merah. Ketiga warna ini juga memiliki makna filosofi, yaitu Trimurti terkait keseimbangan (penciptaan, pemeliharaan dan peleburan). Bahan pewarna dari kain gringsing berasal dari warna alami, seperti warna putih kekuningan berasal dari campuran minyak kemiri dan air abu yang berfungsing tidak hanya sebagai pewarna tetapi juga sebagai pelengket warna lain. Selanjutnya adalah warna hitam atau biru (indigo) berasal dari daun taum yang direbus dan yang terakhir adalah warna merah yang berasal dari kulit akar mengkudu yang dihaluskan menjadi tepung. Proses pewarnaan membutuhkan waktu yang lama, dimulai dari tahap pembuatan bahan, perendaman, pengeringan dan penyimpanan. Teknik pembuatan kain gringsing menggunakan teknik double ikat (sistem ikat ganda), dimana dalam pembuatan motif dan warna bagian panjang dan lebar dilakukan secara terpisah dan dengan ukuran yang sesuai agar saat kedua jenis benang disatukan bisa seimbang. Proses terakhir dari pembuatan kain ini adalah penenunan menggunakan cagcag.

66 komentar:

  1. Hallo kakak jofel, tulisannya udah bagus banget jadi tau sekarang gimana proses pembuatan kain gringsing hehe
    Mau tanya dong kenapa harus pake minyak kemiri ya untuk pewarnaan kainnya ? Terima kasih ~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kepada semua yang telah membaca artikel saya. Untuk Saudari Ayu Kinanti saya akan mencawab tentang penggunaan minyak kemiri sebagai pewarna. Jadi berdasarkan proses perwarnaan, warna putih kekuningan merupakan warna dasar dari pembuatam kain gringsing. Jadi untuk mendapatkan warna putih kekuningan memang berasal dari minyak kemiri tersebut dan dicampur dengan air abu. Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber saya, air abu sendiri yang didiamkan cukup lama akan menghasilkan warna air yang kekuningan dan itu menandakan bahwa kualitas dari air abu semakin baik. Oleh sebab itu, minyak kemiri dan air abu yang digunakan sebagai bahan penyusun warna putih kekuningan. Dan satu lagi, narasumber juga mengatakan bahwa minyak kemiri sebagai bahan "perekat" warna lainnya (indigo dan merah). Semoga jawaban saya bisa diterima oleh Saudari Ayu Kinanti. Bila masih ada yang ingin ditanyakan, bisa untuk bertanya lagi. Terima kasih.

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Tulisannya sangat bagus jo.. Tapi mau ada yg saya tanyakan,, kira-kira setiap motif yang dibuat apakah ada maknanya tersendiri?? Contohnya motif cemplong apakah ada makna khususnya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Saudari Tiara atas pertanyaan. Terkait dengan makna motif, saya tidak mendapatkan informasi yang banyak dari narasumber, namun dari apa yang saya dapatkan dikatakan bahwa motif-motif pada kain gringsing tidak memiliki makna khusus. Motif-motif tersebut memiliki makna seperti pada umumnya, seperti yang telah saya tuliskan di artikel. Pernah juga dari narasumber menyinggung terkait dengan makna motif, selain yang telah saya saya tuliskan adalah adanya motif panah, yang melambangkan keseimbangan dan konsep pola pemukiman. Tetapi terkait dengan makna motif tidak terlalu banyak dicantumkan pada artikel ini. Terima kasih atas pertanyaan dan kiranya bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi penulisan berikutnya.

      Hapus
  4. wah keren sekali, menarik untuk dibaca, tp saya masih bingung kenapa benang yang diberi warna tidak boleh dijemur pada terik matahari secara langsung ya? hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk pertanyaan Saudara Wira, terkait dengan penjemuran mengapa jangan langsung dikenakan pada sinar matahari, karena sinar matahari yang langsung mengenai benang akan merusak struktur dari benang tersebut. Lagipula, dengan proses mengangin-anginkan benang, proses penyerapan warna akan lebih maksimal dibandingkan langsung dijemur pada sinar matahari. Karena seperti kita ketahui, bahwa sinar matahari memiliki kandungan ultraviolet, jadi kandungan tersebut bila mengenai benang, bisa memudarkan warna dari benang tersebut. Terima kasih atas pertanyaannya dan semoga informasi yang saya berikan bisa bermanfaat. Bila ada lagi yang ingin ditanyakan, bisa langsung dikomentari.

      Hapus
  5. halo jofel.. tulisannya sudah sangat bagus.. infonya juga sudah sangat banyak yang didapat dari tulisan ini.. saya mau bertanya sedikit.. kira-kira ciri khas dari pembuatan kain gringsing ini apa yang membedakan dari kain yang lain? terimakasih jofel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Saudari Norma karena telah bertanya. Jadi yang menjadi keunikan dari pembuatan kain gringsing adalah teknik double ikat. Jadi jika perhatikan kain-kain pada umumnya, teknik pembuatan motif hanya pada satu sisi (memangjang atau melebar), sedangkan pada kain gringsing, motif kain dibuat di dua bagian (memangjang dan melebar) secara terpisah. Inilah yang menjadi tingkat kesulitan, sehingga dalam proses pembuatannya dibutuhkan perhitungan, ketelitian, pengalaman dan kesabaran dalam membuatnya. Karena pembuatan motif dibutuhkan pengukuran yang akurat di setiap bagian, agar pada saat dua bagian benang disatukan, motif menghasilkan bentuk yang seimbang. Salah sedikit pehitungan akan membuat "kecacatan" di dalam motif tersebut. Disamping itu, proses pewarnaan kain yang murni semua berasal dari alam (tanpa bahan kimia), sehingga proses pewarnaan memakan waktu yang cukup lama, bisa dalam hitungan tahun. Mungkin proses perwarnaan tercepat memakan waktu selama setahun lebih, namun untuk menghasilkan warna yang lebih berkualitas dibutuhkan waktu tahunan yang lebih lama. Semoga jawaban saya bisa memberikan keterangan lebih jelas kepada Anda.

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Postingannya bagus Jofel,, mau tanya, ada ciri khas lain nggak dari teknik pembuatan yang membedakan dengan teknik pembuatan kain tradisional yang lain?
    Thx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Linda sudah membaca dan bertanya. Jadi kalo dari segi pembuatannya yang menjadi keunikan khasnya memang adalah teknik double ikat (ikat ganda), walaupun sebenarnya teknik ini juga dipakai tidak hanya di Desa Tenganan, tetapi ada juga di wilayah Sulawesi Tengah, yaitu sarung donggala. Tapi yang menjadi keunikan lainnya adalah fungsi kain tersebut yang digunakan pada saat upacara-upacara adat oleh masyarakat asli Desa Tenganan berserta konsep filosofinya yang mengandung makna Tri Murti dalam ajaran Hindu. Semoga informasinya bermanfaat ya.

      Hapus
  10. let's join with us one of the websites given for big bonus promotions. Thank you if you want to help us promote our website.
    S1288 live

    BalasHapus
  11. This bog has so many benefits for everyone who likes to be able to read it perfectly. thank you
    Fafaslot

    BalasHapus
  12. I like you the creation of blogs that we have, do you like the services we have ,? if you like to help, share it. Thank you
    Joker123 Gaming

    BalasHapus
  13. Bonus Referensi Di Bagikan Setiap Tanggal 1 Dengan Syarat :

    Jika Referensi 2 – 4 Pemain Aktif Maka Akan Mendapatkan Bonus 2% Dari Total Lose Seluruh Akun Pemain Yang Di Referensikan
    Jika Referensi 5 – 7 Pemain Aktif Maka Akan Mendapatkan Bonus 3% Dari Total Lose Seluruh Akun Pemain Yang Di Referensikan
    Jika Referensi 8 – 10 Pemain Aktif Maka Akan Mendapatkan Bonus 4% Dari Total Lose Seluruh Akun Pemain Yang Di Referensikan
    Jika Referensi 10 Pemain Aktif Lebih Maka Akan Mendapatkan Bonus 5% Dari Total Lose Seluruh Akun Pemain Yang Di Referensikan
    agen Joker123

    BalasHapus
  14. PROMO BONUS MEMBER BARU SABUNG AYAM S128 | SV388 | CFT2288
    Bonus 10% Dari Deposit Awal & Bonus Akan Di Isi Langsung Ke Akun Games
    Minimal Deposit Rp.200.000 Untuk Mengikuti Promo Bonus Member Baru
    Syarat Jika Ingin Withdraw : Total Credit Harus Mencapai 4x Dari Nominal Deposit Di Tambah Bonus
    Dilarang Memiliki Kesamaan IP Sesama Member & Dilarang Melakukan IP Jumper
    Situs Vivoslot

    BalasHapus
  15. welcome and good luck his luck on our site all friends

    https://arenamain303.blogspot.com/
    https://info-jokergaming.blogspot.com/
    https://myagenslot.blogspot.com/

    BalasHapus
  16. game joker teraman disini hanya akan menghasilkan keuntungan

    Related Sites :
    Joker Slot
    Agen Joker
    Daftar Joker

    BalasHapus
  17. game online slot joker terbaik dan terpercaya disini

    Related Sites :
    Joker128
    Daftar Joker128
    Agen Joker128

    BalasHapus
  18. agen joker123 teraman hanya disini

    Related Sites :
    Joker Slot
    Situs Joker

    BalasHapus
  19. game fafaslot online teraman hanya disini

    Related Sites :
    fafaslot
    fafa slot
    fafa slot online

    BalasHapus
  20. I found this blog to have a lot of accurate information and really help us in our daily lives
    Daftar Joker123 Terbaik

    BalasHapus
  21. Very lucky to be able to read this information. Very helpful to me in meeting my information needs. Where can I get information like this?

    Related Sites :
    Joker123
    Slot Joker

    BalasHapus
  22. dicoba saja dengan keseruan yang aman dannnormal Slot Joker Gaming

    BalasHapus
  23. DAFTAR FAFASLOT

    mainkan jenis game baru dan aman diwebsite rsmi dan terpercaya

    BalasHapus