Jumat, 06 Januari 2017

Makna Lukisan Kamasan di Kertha Gosa

Makna Lukisan Kamasan di Kertha Gosa


Sang Ayu Putu Damia Tesarina
1401405033

Pengantar
Pulau Bali merupakan salah satu pulau yang terkenal dengan objek wisatanya. Setiap kabupaten memiliki objek wisata yang indah dan mempunyai sejarah juga tentunya. Bali juga sebagai daerah  yang terkenal dengan budayanya yang unik, tradisi dan kehidupan masyarakat sarat akan makna filosophis yang sesuai dengan ajaran Agama Hindu yang dianut masyarakatnya secara dominan. Selain itu, Bali juga memiliki kesenian yang khas yaitu seni lukis.  Setiap daerah pun memiliki ciri khas tersendiri seperti lukisan wayang di Ubud, di Kerambitan, dan di Kamasan.

Lukisan wayang di Desa Kamasan merupakan lukisan khas yang dibuat oleh penduduk lokal desa Kamasan. Uniknya lukisan ini terdapat di Kertha Gosa dan terletak pada Bale Kambang. Kertha Gosa merupakan objek wisata yang ada di Klungkung dan juga salah satu contoh dari peninggalan sejarah Bali yang terletak di pulau Bali, atau tepatnya di Kota Semarapura, Kabupaten Klungkung.

Dalam perkembanganya, lukisan di Bale Kambang Kertha Gosa ini terus diteliti dan di telaah arti dan makna dari masing-masing lukisan, dalam hal ini peneliti melakukan wawancara terhadap warga yang bernama bapak I Nyoman Arnawa dan Gede Jaya selaku penjaga sekaligus penerus keturunan pelukis lukisan di kertha gosa ini.

Tulisan ini mencoba memberikan gambaran mengenai makna filosofi yang terkandung pada lukisan Kamasan di Kertha Gosa. Ada pun juga bertujuan dalam rangka memberikan informasi bagi penelitian arkeologi lewat kajian etnoarkeologi tentang makna lukisan tersebut. Untuk itu, fokus permasalahan yang diangkat adalah tentang makna lukisan wayang Kamasan di Kertha Gosa  beserta sejarahnya menurut masyarakat desa Kamasan itu sendiri.
Pembahasan
Seni Lukis di Bali

Lukisan merupakan salah satu hasil dari sebuah seni yang memiliki keindahan serta memiliki makna tersendiri dari si pembuat. Karena Setiap manusia memiliki sudut pandang yang berbeda di dalam menjalani hidup ini. Begitu pula saat kita membuat suatu lukisan, masing-masing memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Perbedaan sudut pandang dapat dipengaruhi oleh suasana, waktu, dan kondisi geografis. Jenis-jenis lukisan pun banyak bisa kita temui di berbagai daerah. Perbedaan-perbedaan dari segi bahan-bahan, alat-alat dan teknik pembuatan suatu lukisan menghasilkan karakteristik yang berbeda. Ragam seni lukis pun sangat di pengaruhi oleh budaya masing-masing daerah. Sehingga setiap daerah mempunyai keunikan tersendiri dan dapat dijadikan sebuah ciri khas suatu daerah.

Bali memang selalu memberikan pesonanya serta memiliki kesenian dan kebudayaan yang beraneka ragam. Setiap daerah di Bali memilki masing-masing kesenian berupa seni patung, seni tari dan juga seni lukis. Sudah menjadi bacaan umum, perbedaan yang mencolok dari seni lukis Bali adalah ciri khas yang lahir dari keadaan lokal, keadaan lokal ini diartikan sebagai situasi yang tumbuh seiring nilai lain dari hasil budaya yang berkembang dari suatu daerah diwilayah nusantara, sebelum bernama Indonesia dan merdeka sebagai negara yang berdaulat. Kantung-kantung kebudayaan ini kemudian mentrasformasi nilainya menjadi ciri kekhasan dari setiap daerah, dengan tata pemerintaah kerajaan yang bebeda pula. Keyakinan serta kepercayaan terhadap suatu agama, keyakinan aliran kepercayaan dan lain-lain sangat besar berpengaruh dalam membentuk karakter suatu daerah di nusantara. Walapun disadari garis utuh ciri-ciri kebudayaan disetiap daerah masih memiliki sifat kesamaan.
Pada awalnya di Bali tidak dikenal lukisan komersial. Yang ada hanyalah lukisan sebagai kesenian sakral, karena semata-mata dipergunakan sebagai hiasan di tempat-tempat pertunjukan, di istana-sitana bangsawan dan di pura-pura, baik itu sebagai umbul-umbul, kober ataupun sebagai langse dan ider-ider. Para seniman tidak menjual lukisan hasil karyanya kepada masyarakat umum, namun hidupnya dijamin oleh keluarga raja dan para bangsawan yang memberinya pekerjaan tetap untuk menghias berbagai istana dan tempat ibadah yang mereka bangun.
Bahkan ada satu desa, yaitu Desa Kamasan di sebelah selatan Kota Semarapura atau Klungkung yang hampir seluruh penduduknya berprofesi sebagai pelukis sejak jaman kerajaan dulu hingga sekarang karena mereka dulu memang pelukis-pelukis yang bekerja pada raja Klungkung sehingga ditempatkan secara bersama-sama di desa Kamasan dan selalu dipekerjakan raja untuk menghias istana (puri) dan tempat ibadah (pura) yang dibangun keluarga raja ataupun para bangsawan lainnya.
Lukisan gaya Kamasan disebut juga Lukisan Gaya Klasik Kamasan karena lukisan gaya ini berasal dari jaman keemasan kerajaan Bali kuno yang belum mendapat pengaruh Eropa ataupun pengaruh luar lainnya. Temanya biasanya berasal dari dongeng tentang kehidupan para dewa, kehidupan kalangan bangsawan dan dongeng-dongeng binatang atau Tantri. Jarang terdapat lukisan klasik tentang kehidupan masyarakat umum. Warna-warnanya biasanya diambil dari warna alam, misalnya untuk warna putih dipergunakan tulang yang dihancurkan, untuk warna hitam dipergunakan arang, untuk warna biru dipergunakan rumput taum, untuk warna merah digunakan babakan kayu Sunti, sedangkan untuk warna kuning diambil dari minyak Kemiri, yang kemudian dicampur dengan perekat sehingga menempel pada kanvas. Lukisan Gaya Klasik Kamasan hanya memakai dua dimensi saja, panjang dan lebar, tidak ada perspektif sehingga jauh dekat tidak terlihat, sedangkan obyek yang dilukis terlihat seperti wayang, datar tanpa sudut pandang (perspektif) ataupun kedalaman. 
Sejarah Lukisan Kamasan di Kertha Gosa
Zaman keemasan kerajaan Bali dianggap era pencerahan kesenian. Masa bertahtanya Dalem Waturenggong pada abad ke-16 melahirkan beragam kesenian seperti Gambuh, Wayang Kulit, Wayang Wong, Topeng dan sebagainya yang kemudian diacu sebagai kiblat pengembangan bentuk-bentuk seni pertunjukan masa-masa setelahnya, hingga kini. Menjelang masa kemerdekaan, para bangsawan Bali sebagai elit penguasa yang kuasa atas pengaturan sosial ekonomi rakyat, dihormati sebagai penyayang dan pengayom seni. Aura puri atau keraton berbinar kemilau oleh warna-warni keindahan seni. Eksistensi seni berkontribusi mendongkrak gengsi kerajaan.
Menurut hasil wawancara yang penulis lakukan terhadap bapak I Nyoman Arnawa dan Gede Jaya di Kertha Gosa pada sabtu lalu hal ini membuat kerajaan berlomba-lomba untuk saling mempertunjukan hasil kesenian dari masing-masing puri. Puri Klungkung pun mengadakan lomba lukisan. Nenek moyang dari desa Kamasan mempunyai anak, ada yang suka berjudi dan ada yang suka membantu orang tua. Salah satu anaknya ada yang memiliki kemampuan melukis dan mengikuti lomba yang di adakan puri Klungkung. Anak ini pun tidak tahu bahwa dirinya bertaksu. Taksu dapat dibatasi sebagai kekuatan dalam {inner power), kekuatan spiritual (spiritual poiver), atau kekuatan gaib (gagical poiver). Di bidang seni kata metaksu mengandung arti seniman, karya seni, atau obyek seni lainnya yang sudah matang.
Lukisan dari anak ini pun dijadikan pemenang oleh raja. Raja tertarik dengan lukisan tersebut karena berbeda dari lukisan lainnya dan raja merasakan bahwa lukisan itu seolah-olah hidup. Hidup yang dimaksud bukan bergerak, namun lukisan tersebut seperti memiliki jiwa.  Maka dari itu diperintahlah orang dari desa Kamasan tersebut untuk melukis lukisan wayang di langit-langit Bale Kambang. Begitulah sepenggal cerita mengenai sejarah lukisan Kamasan yang ada di Kertha Gosa.
Sekarang lukisan wayang Kamasan itu sudah mengalami beberapa kali mengalami restorasi. Pada tahun 1930 lukisan tersebut direstorasi oleh para seniman lukis dari Kamasan. Dalam restorasi tersebut, lukisan yang menghiasi langit-langit bangunan yang semula terbuat dari kain dan parba diganti dan dibuat di atas eternit, lalu dibuat lagi sesuai dengan gambar aslinya. Restorasi lukisan terakhir dilakukan pada tahun 1960.
Makna dari Lukisan Kamasan di Kertha Gosa
Bale Kambang Kertha Gosa terletak di tengah dan dikelilingi oleh kolam.
Selain arsitektur bangunan yang indah, keunikan Kerta Gosa terletak di langit-langit bale yang ditutupi dengan lukisan tradisional bergaya Kamasan. Menurut bapak Arnawa sebagai penerus pelukis dari Kamasan ini lukisan-lukisan di langit-langit Kerta Gosa menawarkan pelajaran rohani yang berharga. Jika seseorang melihat hal ini secara rinci, pada setiap bagian langit-langit menceritakan cerita yang berbeda, terdapat satu bagian yang bercerita tentang karma dan reinkarnasi, dan bagian lain menggambarkan setiap fase kehidupan manusia dari lahir sampai mati.
Pada panel tingkat pertama, kedua, ketiga dan keempat dari atas pada langit-langit bangunan, dapat kita lihat Cerita tentang Sutasoma. Cara membacanya dimulai dari panil paling atas sebelah selatan, dari kiri ke kanan. Fragmen ini menceriterakan perjalanan Sang Sutasoma mencari kebenaran. Adapun juga berisikan tentang perjalanan Sutasoma dari kerajaan Astina menuju pegunungan Mahameru. Cerita mengenai peperangannya melawan kejahatan pun ada dalam perjalanan tersebut banyak rintangan yang harus dihadapi. Namun dengan kekuatan batin yang dimiliki, Sutasoma berhasil mengatasi segala rintangan.

Panel mengenai Lalintangan, terdapat pada deret paling bawah langit-langit bangunan  Taman Gili. Lalintangan adalah pengertian akan adanya pengaruh bintang-bintang di langit terhadap kelahiran manusia. Di sini diceriterakan adanya 35 macam watak manusia yang berbeda-beda menurut hari lahirnya. Seperti misalkan seseorang lahir pada lintang tertentu  dan dari sanalah kita bisa melihat kepribadian dari seseorang tersebut. Selain itu juga terdapat symbol-simbol menanam padi, berarti seseorang tersebut kemungkian suka bercocok tanam.

            Lukisan-lukisan mengenai karma phala pun dapat kita jumpai di sini. Dalam Hindu dikenal Hukum Karma Phala. Karma berasal dari bahasa Sansekerta yang secara harfiah diartikan membuat atau berbuat, sedangkan Phala berarti buah atau hasil. Sehingga dapat disimpulkan Karma Phala adalah suatu peraturan atau hukuman dari hasil dalam suatu perbuatan. Hukum Karma Phala merupakan salah satu dari Panca Srada, lima kepercayaan dalam Hindu. Karma Phala merupakan filsafat yang yang mengandung etika yang artinya bahwa umat Hindu percaya akan hasil dalam suatu perbuatan. Hukum Karma Phala adalah hukum sebab-akibat, hukum aksi reaksi, hukum usaha dan hasil atau nasib. Hukum ini berlaku untuk alam semesta, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan manusia. Jika hukum itu ditujukan kepada manusia maka disebut dengan hukum karma dan jika kepada alam semesta disebut hukum Rta. Hukum inilah yang mengatur kelangsungan hidup, gerak serta perputaran alam semesta.

            Selain itu, menurut jaya lukisan-lukisan yang ada di langit-langit Bale Kambang ini menceritakan kehidupan Pan Brayut. Kehidupan Pan Brayut ini menceritakan ia yang dikaruniai 18 orang anak, sehingga mebuat ia sibuk dan tak sempat mengurus hal-hal lainnya. Terdapat juga lukisan mengenai kehidupan masyarakat di Bali. bagaimana aktivitas-aktivitas masyarakat di Bali sehari-hari. Seperti kegiatan upacara agama di Bali, bagaimana keluarga di Bali.

Cerita Pelelindong atau gempa. Didalam lukisan di langit-langit bale Kertha Gosa menceritakan pada jaman dulu apabila terjadi gempa merupakan suatu pertanda entah itu baik ataupun buruk tergantung di bulan apa gempa itu terjadi. Misalnya, apabila gempa terjadi pada bulan Kasa , tampak Betara Sri sedang bergoyang, ini pertanda rakyat dan negara akan aman dan sentosa. Begitupun gempa yang terjadi di bulan-bulan lainnya. Karena apabila terjadi gempa di bulan tertentu akan memiliki ramalan atau pertanda yang berbeda pula.

Cerita Ni Dyah Tantri. Cerita ini menceritakan keinginan Ni Dyah Tantri ingin menghapus tentang keinginan raja yang menikah pada gadis setiap hari. Ia tidak setuju akan hal itu. Maka dari itu Ni Dyah Tantri mengorbakan dirinya untuk menikah dengan raja tersebut. Setelah mereka menikah, Ni Dyah Tantri yang mempunyai kemampuan bercerita pun setiap malam memberikan cerita kepada raja. Sehingga, keinginan raja untuk menikah setiap hari pun bisa dihilangkan.

Cerita Bhima Swarga menceriterakan perjalanan Bhima (putera kedua Pandawa) ke Yamaloka yang disertai oleh ibunya Dewi Kunti, saudara-saudaranya, untuk mencari ayahnya, Pandhu dan ibu tirinya, Dewi Madrim. Di Yamaloka, dijumpai berbagai peristiwa yang dialami oleh roh (atma) sesuai dengan perbuatannya di dunia. Misalnya orang yang suka berdusta lidahnya ditarik, orang yang suka berzinah dibakar dan sebagainya. Apa pun rintangan yang dihadapinya, tetapi karena semangat dan ketetapan hati yang dimiliki, akhirnya Bhima berhasil memperoleh air suci (amerta) yang dapat dipergunakan untuk menebus ayah dan ibu tirinya di Yamaloka.

Begitulah makna-makna yang terkandung dalam lukisan Kamasan Bale Kambang Kertha Gosa. Setiap cerita memiliki nilai-nilai positif yang dapat kita ambil. Bagaimana dapat kita lihat semangat-semangat dalam perjalanan setiap tokoh demi kebenaran, keluarga dan tetap dijalan yang benar. Selain semangat kita juga bisa melihat dari kepintaran dari tokoh-tokoh cerita di lukisan.

Kesimpulan
            Setiap karya seni memiliki keindahan dan makna tersendiri dalam hasil karya tersebut. Begitu juga dengan Lukisan-lukisan Kamasan yang ada di Bale Kambang Kertha Gosa. Cerita-cerita yang dimuat pada lukisan tersebut sangat menarik dan memberikan gambaran tentang bagaimana itu hukum karma phala, semangat-semangat dalam perjalanan dan peperangan dari setiap tokoh dan bagaimana kita harus tetap berada dijalan yang benar dalam rintangan apapun.


Sumber :
Data ini di dapat dari hasil wawancara dengan masyarakat Kamasan di Kertha Gosa,  Klungkung, Bali (16 desember 2016) :
I Nyoman Arnawa
Gede Jaya


lampiran foto



Selasa, 03 Januari 2017

Mengungkap makam islam bugis kuno di kuta




Husein Abdurrahim
1401405023


Mengungkap makam islam bugis kuno di kuta
Makam ini berada di Jl. I Gusti Ngurah Rai no.14 tetpatnya di belakang  Granma plus hotel airport. Makam itu tidak di jaga, tetapi hanya di buka pada hari kamis dan jumat saja dari pagi hingga sore untuk masyarakat yang ingin berziarah. Areal pemakaman tidak terlalu besar sekitar 25X25 meter, kondisi pemakaman tidak terlalu bersih dan tidak tertata. Gerbang pemakaman terdapat di timur areal pemakman, terdapat dua makam keluarga yang di pagarkan dan satu makam yang di buatkan rumah dan di sakralkan karena pindahan dari bandara. Hanya masyarakat kampung bugis kuta yang boleh di makamkan di sini, jadi tidak sembarangan orang yang di makamkan di sini.

Areal pemakaman pernah di bersihkan sekitar dua tahun lalu, dulu kondisi pemakaman sangat tidak terawat banyak pohon-pohon besar dan kadang sering terjadi pohon tumbang dan merusak pemakaman. Sehinnga masyarakat mempunyai inisiatif untuk membersihkan areal pemakaman dengan bantuan dana dari masyarakat kampung islam bugis kuta dan donatur. Saat pembersihan makam kuno di tata kembali dan di rapihkan, banyak juga nisan makam kuno yang di temukan. 

Menurut narasumber, masyarakat bugis sudah sangat lama berada di bali, masayarakat bugis di kuta sejaman dengan masyarakat bugis di serangan, suwung, pemecutan DLL. Masyarakat bugis kuta di berikan daerah karna membantu kerajaan badung melawan kerajaan di sekitar Bali, selain di berikan daerah untuk bermukim juga di berikan pemakaman yang sampai sekarang di gunakan masyarakat kampung islam bugis kuta. Di perkirakan masyarakat bugis kuta masuk pada abad 14 M karena di temukan makam yang paling tua bertuliskan angka tahun 1332 ( kenyataan sebenarnya adalah 1332 hijriah atau 1923-1924 masehi, karena tertulis di nisan dalam bahasa arab yang nyebutkan hijriah) 

Di areal pemakaman itu terdapat makam kuno masyarakat islam bugis di kuta. Jumlah nya tidak di ketahui berapa karana bercampur dengan makam masyarakat, bahkan banyak makam yg mengikuti gaya makam kuno. Makam kuno berada di sebelah selatan dan timur areal pemakaman, yang bercampur dengan makam kuluarga dan berada di dalam pagar.
Ciri-ciri makam kuno kampung bugis kuta dapat di ketahui:

  • ·         Nisannya terbuat dari batu karang yang keras.
  • ·         Terdapat huruf arab gundul berbahasa bugis.
  • ·         Terdapat angka tahun yang lama.

terdapat perbedaan makam kuno laki-laki dan perempuan

Laki-laki:

  • ·         berbentuk bulat atau lonjong.
  • ·          hampir semua sisinya terdapat tulisan.
  • ·         Terdapat dua nisan, di kepala dan di kaki.

Perempuan:

  • ·         berbentuk pipih.
  • ·         hanya bagian depan yang berisikan tulisan.
  • ·         terdapat hiasan di bagian atas nisan berupa bunga.
  • ·         hanya terdapat satu nisan, yaitu di daerah kepala.

Banyak perubahan yang terjadi pada pemakaman kuno menurut narasumber. Dulu saat ia masih kecil sangat banyak makam kuno, menurutnya banyak nisan makam kuno yang hancur tertiban pohon dan di curi. Ia pun mengatakan dulu terlihat kasta atau status sosial pada makam tersebut kan semakin tinggi kastanya atau status sosialnya maka akan semakin megah dan besar pemakamannya. Semakin sederhana semakin rendah kasta dan status sosialnya. Sayangnya sekarang sudah tidak terlihat karna semua makan hanya ada nisannya saja. 

Karena kurangnya penegtahuan masyarakat tentang pengelolaan dan pelestarian makam kuno, masyarakat hanya meletakan nisannya di sembarang tempat tanpa melihat aspek-aspek penelestarian dan pengelolaan. Peran pemerintah sama sekali tidak ada dalam pelestarian dan pengelolaan makam kuno di kampung bugis kuta, semua di tanggung oleh masyarakat dan kadang ada donatur yang menyumbang. Pemakaman ini jarang di ketahui oleh masyarakat luar kampung islam bugis kuta dan sekitarnya. Bahkan di internet tidak ada yang membahas tentang makam islam bugis kuno di kuta ini.
Lampiran:














Narasumber: 
·         Haji Hanafi (pengurus dan penjaga pemakaman kampusng islam bugi kuta/ tokoh masyarakat)
·         Haji Basori (pengurus dan penjaga pemakaman kampusng islam bugi kuta/ tokoh masyarakat)

Senin, 02 Januari 2017

LUKISAN WAYANG DI DESA KAMASAN TINJAUAN ETNOARKEOLOGI

LUKISAN WAYANG DI DESA KAMASAN
TINJAUAN ETNOARKEOLOGI


Abdimas Al Ikromi Arifqi
1401405009


ABSTRACT
Ethnoarchaeology Research is a reconstruction of archaeological context in answering the society of human life in the past, present, and future. The objective of the study is to provide support of anthropological data for understanding archaeological phenomena. one aspect of Ethnoarchaeology is puppet paintings in Kamasan village, Klungkung, Bali.  question of this study is what the raw material for making a painting, what stories contained in the painting, and what the role of this puppet painting for the people in the village of Kamasan, bali. This research aims to understand about painting puppet Kamasan village, Bali. This study used a qualitative approach by interviewing residents and painters painting puppet Kamasan village. the results of the study showed bawha puppet paintings in Kamasan village is made of canvas colored with watercolor, stories contained in the painting is usually the phylosoph of hindu and Bali culture.

Keywoards : ethnoarchaeology, puppet painting, Kamasan village.

ABSTRAK

Penelitian etnoarkeologi merupakan konteks rekonstruksi arkeologi dalam menjawab kehidupan manusia masyarakat zaman dahulu, kini dan akan datang. Tujuan studi etnoarkeologi adalah pemberian dukungan data antropologi dalam membedah fenomena-fenomena arkeologi. Salah satu aspek etnoarkeologi adalah lukisan wayang di desa kamasan, klungkung, Bali. pertanyaan dari penelitian ini adalah apa bahan baku pembuatan lukisan, apa cerita yang terkandung dalam lukisan, dan apa peranan lukisan wayang ini bagi masyarakat di desa kamasan, bali. penelitian ini bertujuan untuk memahami tentang lukisan wayang di desa kamasan, bali. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan cara mewawancarai warga dan pelukis lukisan wayang di desa kamasan. hasil dari penelitian menunjukkan bawha lukisan wayang di desa kamasan ini terbuat dari kain kanvas yang diwarnai dengan cat air, cerita yang terdapat dalam lukisan biasanya merupakan filosofi agama hindu dan kebudayaan Bali.

Kata kunci : etnoarkeologi, lukisan wayang, Desa Kamasan.

Pengantar
Desa Kamasan memiliki kekayaan peninggalan arkeologi yang kaya dan beragam sesuai dengan nilai budaya tiap peninggalan arkeologi. Salah satu kekayaan arkeologinya adalah lukisan wayang yang terdapat di Kertha Gosa, Klungkung, Bali. Lukisan-lukisan tersebut bercerita tentang perjalanan Bhima ke Swarga Loka, Diah Tantri, Sang Garuda mencari Amerta dan Palelindon.

            Di Desa Kamasan sendiri terdapat beberapa pelukis yang bisa membuat lukisan wayang yang sangat indah, kajian etnoarkeologi terhadap lukisan wayang di desa kamasan ini adalah kajian arkeologi dan antropologi untuk melihat tentang apa itu lukisan wayang beserta bahan pembuatan hingga peranan lukisan wayang ini bagi masyarakat Desa Kamasan sendiri.

            Kajian etnoarkeologi dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kajian etnografi secara informal memberikan informasi kepada ahli arkeologi. Disebut etnoarkeologi informal jika pengamatan etnografi dilakukan hanya sekilas saja, tetapi dimaksudkan untuk kepentingan arkeologi. Kedua, etnoarkeologi mengkaji secara khusus salah satu aspek tertentu dari budaya yang masih hidup, misalnya mata pencaharian, teknologi, atau religi. Ketiga, etnoarkeologi menelaah secara mendalam seluruh budaya masyarakat yang masih hidup sebagai konteks penciptaan budaya bendawi. Schiffer (Tanudirjo, 2009:3) menyatakan etnoarkeologi adalah kajian tentang budaya bendawi dalam sistem budaya yang masih ada untuk mendapatkan informasi, khusus maupun umum, yang dapat berguna bagi penelitian arkeologi. Etnoarkeologi menelisik hubungan antara tindakan manusia dan budaya bendawi di masa kini untuk menyediakan prinsip prinsip yang dibutuhkan dalam kajian tentang masa lampau. Kajian-kajian arkeologi telah melihat potensi-potensi  prasejarah kehidupan manusia dari tingkat paling rendah hingga tingkat paling kompleks. Kajian tulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap penelitian etnografi dan arkeologi dalam menjawab khazanah keunikan lukisan wayang di Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung, Bali.

Tulisan ini mencoba memberikan gambaran budaya kesenian di Desa Kamasan dalam rangka memberikan informasi deskripsi bagi penelitian arkeologi lewat kajian etnoarkeologi tentang lukisan wayang. Untuk itu, fokus permasalahan yang diangkat adalah tentang lukisan wayang di Desa Kamasan beserta perananya untuk masyarakat desa Kamasan itu sendiri.


Potret Lokasi Penelitian

Dikutip dari laman web Desa Kamasan, Kamasan merupakan desa kecil di Kabupaten Klungkung, Bali yang berjarak 42 kilometer ke timur kota Denpasar. Desa ini dikategorikan sebagai desa kecil karena wilayah dukungannya yang hanya seluas 249 hektar dengan jumlah penduduknya hanya sekitar 3.400 jiwa yang tersebar dalam 10 banjar adat atau 4 dusun desa dinas. Desa Kamasan terhampar memanjang dari utara ke selatan dengan batasan-batasan sebagai berikut: di sebelah utara Desa Giliran; di sebelah selatan Desa Gelgel; disebelah Timur Desa Tangkas; disebelah barat Desa Jelantik.

Secara Administratif Desa Kamasan masuk dalam wilayah Kabupaten Klungkung. Secara geografis desa ini termasuk dataran rendah Pantai Klotok. Perjalanan darat dapat dilakukan dengan menggunakan roda dua ataupun roda empat karena akses jalan sudah bagus dan beraspal. Dari kota denpasar perjalanan memakan waktu 45 menit sampai 1 jam tergantung arus lalu lintas yang terjadi di jalan.

Lokasi penelitian terletak di banjar Siku, Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung, Bali. Bali memiliki iklim tropis. Curah hujan adalah signifikan pada hampir sebagian besar bulan dalam setahun, dan musim kemarau singkat memiliki pengaruh yang kecil. Lokasi ini diklasifikasikan sebagai Am berdasarkan Köppen dan Geiger. Suhu rata-rata di Bali adalah 26.8 °C.

Di Desa Seni Kamasan ini umumnya masyarakat menjadikan bakat lukis mereka sebagai mata pencaharian utama. Namun tidak kesemua dari masyarakat menekuni dunia painting, ada juga beberapa masyarakat yang menekuni bidang lain seperti produksi uang kepeng dan hiasan serta ada juga yang menekuni seni ukir selongsong peluru.

Penelitian dilakukan di beberapa tempat yaitu rumah pelukis I Ketut Sukanta, Ni Nyoman Kicen, Galeri Lukisan Pande Sumantra dan rumah pelukis Gusti Ngurah Dibia.

Lukisan Wayang

Seni lukis wayang Kamasan merupakan karya seni tradisional yang tumbuh dan berkembang sangat subur di Desa Kamasan, Klungkung, Bali. Seni Lukisan Wayang Kamasan memiliki identitas sangat khas dan unik, sering digunakan sebagai pelengkap dalam ritual agama Hindu. seni lukisan wayang kamasan juga digunakan sebagai bentuk persembahan menyatakan sujud bakti terhadap Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sanghyang Widhi Wasa untuk memohon keselamatan dan ketenteraman umat. Proses pengerjaannya sangat terikat oleh pakem, norma, serta ketentuan-ketentuan yang bersifat mengikat dan baku. Disamping itu, dikerjakan secara kolektif dan komunal dengan menggunakan bahan dan peralatannya diambil dari alam yang diproses dengan teknik-teknik tradisi. Secara umum kesenian di Bali sangat erat menyatu dengan kehidupan masyarakat yang aktivitasnya senantiasa dilekatkan dengan kegiatan agama Hindu, adat istiadat, dan kebudayaan. Secara spesifik seni lukisan wayang kamasan memiliki estetika sangat artistik. Di dalamnya terkandung nilai-nilai filsafat yang bersifat simbolik tentang keseimbangan alam yang berhubungan dengan kehidupan manusia terhadap Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam (tri hita karana). Sebagai karya simbolik, seni lukisan wayang kamasan digunakan sebagai pencerahan dan bayangan dalam kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat .

Masuknya budaya Barat di Bali ditandai dengan peristiwa Puputan Badung tahun 1906 dan Puputan Klungkung tahun 1908. Sejak 1908 Kerajaan Klungkung dengan ibu kota Semarapura secara resmi berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Semenjak itu budaya modern diperkenalkan dengan sistem pemerintahan sipil sehingga muncul elite-elite baru dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pariwisata sebagai sektor baru. Untuk menunjukkan kepedulian Belanda terhadap masyarakat Bali yang sangat miskin secara ekonomi, tetapi sangat kaya dengan seni dan budaya maka seni lukisan wayang kamasan dikomersialkan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.

Meningkatnya kunjungan wisatawan ke Desa Kamasan pada era postmodern disertai permintaan terhadap produk-produk souvenir yang semakin meningkat maka seni lukisan wayang kamasan dikomodifikasi menjadi souvenir sebagai produk penunjang pariwisata.

Pada era modern ini seni lukisan wayang kamasan dikomersialkan sebagai profesi dan dijadikan sandaran untuk menghidupi keluarga. Sebagai profesi pelukis didorong bekerja keras untuk menghasilkan karya-karya maksimal sehingga layak dikomersialkan. Pelukis juga didorong dapat menunjukkan identitas diri sebagai bentuk ciri khas yang terdapat pada seni lukisan wayang kamasan. Seperti yang dikemukakan narasumber yang notabene seorang pelukis bahwa seni lukisan wayang kamasan ini dijadikan sumber utama pemasukan keuangan.

I Ketut Sukanta seorang pelukis senior di Desa Kamasan mengatakan bahwa melukis sudah dijadikan profesi untuk mendapatkan uang berupa penghasilan sehingga dapat menafkahi keluarga. Meskipun demikian, ketika pelukis diberikan kesempatan ngayah untuk kebutuhan ritual, pelukis merasa mendapatkan kehormatan yang tidak ternilai harganya. Pelukis akan menunda semua pekerjaan yang bersifat pribadi dan mendahulukan ngayah. Pelukis dengan senang hati mendapatkan kesempatan ngayah meskipun tanpa imbalan berupa uang (Wawancara dengan I Ketut Sukanta, 2016 di Kamasan). Pak Sukanta juga mengatakan bahwa ia tidak anti terhadap komersialisasi karena sadar terhadap kebutuhan hidup yang begitu tinggi sehingga memerlukan biaya hidup untuk makan, menyekolahkan anak, membuat rumah, dll. Bahkan pelukis juga sempat menerima mahasiswa yang ingin mempelajari seni lukisan wayang kamasan meskipun hasilnya untuk diperjual-belikan.

Bentuk dan Ciri Lukisan Wayang

Seperti yang dijelaskan diatas bahwa Seni Lukisan Wayang Kamasan bukanlah sekadar karya untuk penggalian keindahan saja, yang utama adalah sebuah karya berfungsi sebagai benda ritual sebagai media untuk mencapai tujuan tertentu, seperti menunjukkan kehidupan yang baik dan buruk. Melalui pengabdian tersebut maka diwujudkan lukisan kisah-kisah wayang sebagai bentuk keterkaitan dengan ajaran-ajaran agama Hindu Bali.

Pembagian bidang dalam seni lukis wayang Kamasan juga mengacu pada ajaran Hindu tentang Tri Loka, yaitu bawah, tengah, dan atas. Semakin tinggi dunia atau ruangnya maka dianggap semakin suci.

Pengerjaan lukisan ini dilakukan dengan manual dengan alat-alat tradisional seperti pensil, cat minyak, dan kain kanvas.

Menurut Pak Ketut Sukanta Meskipun dari segi material yang digunakan kain warna logam dirubah menjadi kain kanvas biasa tetapi dari ciri khasnya tetap tampak dalam tema lukisan atau ukiran yaitu menggambarkan tokoh-tokoh wayang, seperti Ramayana, Mahabharata, Sutasoma, Panji, Lelintangan dan lain-lain. Namun meski begitu, lukisan wayang yang dibuat oleh Pak Ketut Sukanta ini terkadang sedikit keluar dari cirri aslinya, Pak Ketut Sukanta mengatakan bahwa seni itu relative, jadi terkadang ia membuat lukisan ini berdasarkan judul yang dipesan, juga terkadang lukisan yang dibuat oleh Pak Sukanta mengikuti suasana hati, Beliau menerangkan biasanya hanya melukis dengan warna biru saja, atau merah saja. Namun tetap pada jalan cerita pewayangan yang notabene cirri asli lukisan kamasan.

Beliau selanjutnya mengatakan bahwa isi dari lukisan ini adalah cerita-cerita pewayangan yang dirangkum dan di ambil intinya saja, karena sangat tidak mungkin untuk memuat satu cerita penuh kedalam sebuah kanvas. Namun Pak Sukanta juga mengutarakan bahwa boleh saja memuat semua cerita dalam satu kanvas selagi itu cukup dan mampu. Beliau  juga melanjutkan bahwa isi dari lukisan wayang ini tergantung pada dimana lukisan ini diletakkan yang mengacu pada konsep hindu yaitu Tri Loka.

Tidak ada tokoh khusus yang dijadikan sebagai ciri khas lukisan wayang, semua wayang bisa dijadikan ide untuk lukisan wayang ini, tergantung judul apa yang akan diambil, sehingga lukisan wayang ini luas ceritanya dan tidak terpatok pada wayang itu-itu aja.  

Peranan Lukisan Wayang

Lukisan wayang tidak hanya memiliki keindahan dan keunikan saja untuk memanjakan mata, tetapi dibalik itu semua lukisan wayang juga mempunyai fungsi lain. Jika dilihat dari segi peranan lukisan wayang sebenarnya terdapat 2 peranan yang dimiliki oleh lukisan wayang ini yaitu untuk sarana ibadah dan sarana ekonomi.

Dalam perananya untuk sarana beribadah biasanya lukisan ini diletakkan di pura-pura dan tempat suci yang dipersepsikan sebagai seni persembahan yang bersifat simbolik. Karena seperti yang kita tahu bahwa makna dalam lukisan ini biasanya berisi tentang ajaran agama hindu dan tokoh pewayangan. Selain itu lukisan wayang juga digunakan sebagai pelengkap dalam ritual agama Hindu. Lukisan wayang juga digunakan sebagai bentuk persembahan menyatakan sujud bakti terhadap Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sanghyang Widhi Wasa untuk memohon keselamatan dan ketenteraman umat.

Lebih jauh lagi, lukisan wayang juga digunakan untuk menunjang kebutuhan ekonomi di desa Kamasan ini, dan tak jarang juga lukisan wayang ini dijadikan mata pencaharian satu-satunya oleh warga. Di desa Kamasan sendiri sudah terdapat banyak artshop yang memajang lukisan wayang untuk diperjualbelikan. Contohnya adalah di galeri milik pak Ketut Sukanta. Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan beliau mengungkapkan bahwa melukis merupakan satu-satunya mata pencaharian yang dimiliki oleh pak Ketut Sukanta. Beliau melanjutkan bahwa minat para pecinta seni terhadap lukisan wayang ini sangat tinggi sehingga mendorong beliau untuk menekuni pekerjaan menjadi seorang pelukis. Pak Ketut Sukanta sendiri mendapat keahlian melukis dari nenek moyang terdahulunya dan dikembangkan melalui belajar (otodidak).

Sangat jelas sekali bahwa lukisan wayang ini begitu berarti bagi masyarakat desa Kamasan, sehingga banyak sekali artshop dan galeri yang memamerkan dan memperjualbelikan lukisan wayang tersebut. Disamping diperjualbelikan, menurut narasumber lukisan wayang ini juga sering kali dipinjam untuk dipamerkan di suatu pertunjukkan pameran budaya yang diselanggarakan di berbagai kota di Indonesia Dan hal ini sangat membantu karena dapat memperkenalkan lukisan wayang desa Kamasan ke masyarakat luas.


Simpulan
Lukisan wayang desa Kamasan merupakan lukisan khas yang dibuat oleh penduduk lokal desa Kamasan. Lukisan Wayang dibuat di sebuah kain kanvas dan di gambar secara manual menggunakan pensil, dan cat minyak. Gambar yang terdapat di lukisan kamasan biasanya adalah cerita pewayangan seperti Ramayana, selain itu cerita yang terdapat dalam lukisan wayang ini adalah tentang ajaran agama Hindu. Lukisan wayang desa Kamasan ini memiliki 2 peranan yaitu peranan untuk kepentingan agama dan peranan untuk kepentingan ekonomi.

Lampiran Foto





Sumber :
Wawancara di Desa Kamasan, Klungkung, Bali (16 desember 2016), dengan beberapa sumber informan, yaitu :
1. I Ketut Sukanta (Painter)
2. Ni Nyoman Kicen (Painter)
3. Galeri Lukisan Pande Sumantra
4. Gusti Ngurah Dibia (Painter)